Sering Keliru Dianggap Milik China, Taiwan Ganti Nama Maskapai China Airlines
Parlemen Taiwan meloloskan usulan penggantian nama maskapai untuk menghindari kebingungan karena sering keliru dianggap sama dengan operator penerbangan milik China daratan.
Parlemen Taiwan meloloskan usulan penggantian nama maskapai untuk menghindari kebingungan karena sering keliru dianggap sama dengan operator penerbangan milik China daratan.
China Airlines (CAL) sering disalahartikan sebagai Air China yang merupakan maskapai nasional China, dan seruan penggantian nama telah berlangsung lama. Diusulkan nama maskapai diperjelas dengan nama yang ada embel-embel Taiwan.
Tetapi usulan makin mendapat dorongan selama pandemi virus corona, yang kemudian berhasil diatasi Taiwan. Taiwan kerap mengirim bantuan medis ke luar negeri dengan pesawat China Airlines, memicu beberapa kebingungan publik di luar negeri mengenai dari mana bantuan itu berasal.
Pada Rabu (22/7), anggota parlemen menyetujui usulan yang meminta Kementerian Transportasi untuk membuat rencana jangka pendek dan jangka panjang penggantian nama pesawat yang sebagian dimiliki pemerintah.
"Kementerian harus membuat CAL lebih dapat diidentifikasi secara internasional dengan citra Taiwan untuk melindungi kepentingan nasional Taiwan karena di luar negeri itu sering keliru dianggap maskapai China," kata juru bicara parlemen Yu Shyi-kun saat membacakan usulan tersebut, dikutip dari AFP, Jumat (24/7).
Usulan itu tidak menetapkan batas waktu kapan maskapai akhirnya harus diganti namanya, namun disebutkan hal itu akan membutuhkan diskusi lebih lanjut.
Beberapa kritikus memperingatkan penggantian nama maskapai ini bisa memprovokasi China - terutama jika referensi spesifik ke Taiwan ditambahkan.
Beijing memandang Taiwan sebagai wilayahnya dan pada suatu hari bersumpah akan merebutnya, dengan paksa jika perlu.
Peningkatan Ancaman Militer
Nama China Airlines ditetapkan setelah Perang Saudara China, ketika kaum nasionalis Kuomintang (KMT) yang dikalahkan melarikan diri ke Taiwan.
Republik China - nama resmi Taiwan - menempatkan diri sebagai saingan Republik Rakyat China.
Selama era KMT yang otoriter, banyak perusahaan Taiwan sering menggunakan kata-kata "China" atau "Chinese".
Sejak itu Taiwan telah berubah menjadi salah satu negara demokrasi paling progresif di Asia dan muncul identitas Taiwan yang berbeda.
Sejak 2016 Beijing telah meningkatkan tekanan diplomatik, ekonomi dan militer karena presiden saat ini Tsai Ing-wen menolak untuk mengakui konsep bahwa Taiwan adalah bagian dari "satu China".