LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. DUNIA

'Sekolah & RS Eropa Bisa Jadi Target Serangan Berikutnya Kecuali Macron Minta Maaf'

Eropa Barat dikejutkan oleh serangkaian serangan mematikan yang dimulai pada 16 Oktober, ketika guru sekolah menengah Prancis Samuel Paty dibunuh.

2020-11-11 07:22:00
Prancis
Advertisement

Sekolah dan rumah sakit di Eropa barat berpotensi menjadi target serangan teroris tunggal kecuali Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta maaf atas pidatonya yang menyinggung Islam dan membela penerbitan kartun Nabi Muhammad.

Itu merupakan pandangan sejumlah pengamat yang berbicara kepada This Week in Asia menyusul tiga serangan teror mematikan bulan lalu di Prancis dan Austria.

"Pada titik ini tak ada negara yang kebal terhadap terorisme. Bisa saja terjadi besok di Jerman, Spanyol, Denmark, Inggris, Belgia," kata Direktur Pelaksana GlobalStrat, Olivier Guitta, sebuah perusahaan keamanan internasional, dikutip dari South China Morning Post, Selasa (10/11).

Advertisement

Guitta juga memperingatkan sekolah dan rumah sakit bisa menjadi target serangan potensial dalam beberapa bulan ke depan.

Dia mengatakan negara-negara di seluruh Eropa perlu meningkatkan kewaspadaan- seperti dilakukan Inggris pekan lalu - menyusul serangan di Nice dan Wina, karena kelompok-kelompok jihadis telah menyerukan serangan lebih lanjut.

Inggris telah menaikkan tingkat ancaman terornya ke level "parah" setelah serangan itu, yang berarti sebuah insiden dianggap "sangat mungkin terjadi".

Advertisement

Eropa Barat dikejutkan oleh serangkaian serangan mematikan yang dimulai pada 16 Oktober, ketika guru sekolah menengah Prancis Samuel Paty dipenggal kepalanya oleh seorang pemuda muslim. Paty dibunuh setelah menunjukkan kepada siswanya kartun Nabi Muhammad yang diterbitkan pada tahun 2015 oleh majalah satir Charlie Hebdo saat membahas materi kebebasan berekspresi.

Pada 29 Oktober tiga orang tewas dalam serangan di Nice, Prancis dan pada 2 November seorang pria bersenjata berat menembak mati empat orang di Wina, Austria.

Reaksi ISIS

Reaksi ISIS

Aktivis ISIS sekarang memposisikan pembunuh Samuel Paty sebagai panutan bagi orang lain, kata Nico Prucha, seorang ahli kelompok teror yang memantau aktivitas jihadis secara daring.

“Video penyerang dan kepala korban (Samuel Paty) telah dibagikan secara online bersama dengan (buku teologi) yang tidak diproduksi oleh ISIS atau Al Qaidah, tetapi sesuai dengan narasi teologis mereka yang menggarisbawahi bahwa setiap orang kafir yang menghina Nabi harus dibunuh dan bahwa negara-negara Eropa terlibat dalam perang melawan Islam," jelas Prucha.

Di antara buku-buku yang dibagikan secara daring adalah salah satu karya Ibnu Taimiyah, seorang ulama muslim abad ke-13 yang menulis bahwa siapapun yang menghina Nabi “harus dibunuh, tidak peduli apakah dia seorang muslim atau kafir, dan tidak memiliki hak untuk bertobat”.

Prucha mengatakan para jihadis telah menggunakan tulisan Ibnu Taimiyyah untuk membenarkan serangan tertentu dan mempromosikan gagasan bahwa balas dendam memulihkan martabat Nabi.

"Mereka memerintahkan individu-individu di seluruh dunia untuk menunjukkan iman mereka dengan menanggapi secara kasar mereka yang menghina Nabi," jelasnya.

Pelaku Tunggal

Dalam setiap serangan baru-baru ini, pelaku dianggap bertindak sebagai pelaku tunggal, tanpa instruksi langsung dari kelompok teror seperti ISIS atau Al-Qaidah.

Hal ini membuat tugas badan keamanan yang berusaha mencegah serangan lebih lanjut menjadi jauh lebih menakutkan.

"Kita berurusan dengan individu yang bertindak atas inisiatif mereka sendiri, yang mungkin telah memutuskan untuk bertindak berdasarkan pertimbangan oportunistik dan meniru serangan yang pernah terjadi sebelumnya," jelas Ludovico Carlino, analis utama di tim Country Risk and Forecasting IHS Markit.

Para ahli mengatakan serangan teror di Eropa sekarang jauh lebih mungkin dilakukan oleh individu yang teradikalisasi tanpa hubungan yang jelas dengan kelompok teror terorganisir.

Guitta mengatakan ISIS tidak dapat melakukan serangan terorganisir di Eropa sejak 2016.

"Apa yang telah terjadi sejak saat itu dalam hal terorisme adalah serangan dengan intensitas rendah, tidak canggih, yang dilakukan oleh individu tunggal yang terkait secara longgar dengan (ISIS) atau melakukannya sendiri," kata Guitta.

Carlino mengatakan ISIS bukan lagi organisasi yang sama yang pernah menguasai sebagian besar wilayah di Suriah dan Irak dan mampu "merencanakan dan melaksanakan operasi eksternal di Eropa".

"Sekarang ancaman utama berasal dari individu yang teradikalisasi dengan sedikit atau tanpa koneksi ke kelompok terorganisir tetapi masih tertarik dengan narasi dan ideologi jihadis," kata Carlino.

Ahmet Yayla, direktur Pusat Keamanan Dalam Negeri di Universitas DeSales, Pennsylvania, mengatakan tidak ada ISIS yang dimobilisasi atau sel-sel yang berafiliasi dengan Al Qaidah di Eropa.

Tak Ada Permintaan Maaf, Lebih Banyak Serangan

Macron telah memicu kemarahan dan unjuk rasa di seluruh dunia muslim. Beberapa ahli telah memperingatkan serangan teroris akan terus berlanjut kecuali Macron meminta maaf.

Kepala Komisi Kepolisian Nasional Indonesia Benny Mamoto mengatakan, "selama Macron tidak meminta maaf atau mengadakan dialog untuk menjelaskan situasinya, serangan akan terus berlanjut".

Mamoto adalah pensiunan jenderal polisi yang menyelidiki peristiwa bom Bali 2002 oleh kelompok Jemaah Islamiah yang menewaskan 202 orang.

Sementara itu, mantan tokoh senior Al-Qaidah di Asia Tenggara Sofyan Tsauri mengatakan, kata-kata Macron telah "menghina Islam", melanggar hak-hak orang dan dapat membangkitkan "sel-sel tidur dari (ISIS) dan Al-Qaidah" di Eropa.

Pernyataan Macron dapat memicu ekstremisme dan ketegangan yang lebih besar antara Barat dan Islam.

"Nabi itu suci bagi umat Islam," kata Sofyan Tsauri.

Sofyan menghabiskan lima tahun di penjara Indonesia karena membantu mempersenjatai kelompok teror. Dia dibebaskan pada 2015 dan sekarang membantu melawan ekstremisme dengan membagikan pengetahuannya di berbagai seminar.

Yayla mengatakan pernyataan Macron telah sampai ke tangan kelompok ekstremis.

"Kata-kata dan empati sangat berarti dalam hal melawan terorisme. Retorika yang tidak perlu dan ekstrim yang menargetkan semua Muslim, semakin mengasingkan Muslim yang tinggal di Prancis. Pada akhirnya, inilah yang diinginkan para teroris," papar Yayla.

Yayla mengatakan Macron perlu meredakan situasi dengan menyerukan ketenangan dan dengan menjangkau minoritas muslim untuk menekankan bahwa targetnya hanya para pelaku kekerasan.

Belajar dari Putin

Tsauri menyarankan Macron dapat belajar dari Presiden Rusia Vladimir Putin, yang mengatakan bahwa kebebasan berekspresi tidak berarti hak untuk menghina "agama lain".

Ketika ditanya apakah Rusia - rumah bagi 20 juta Muslim - dapat menerbitkan majalah yang mirip dengan Charlie Hebdo, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan kepada radio Kommersant FM: "Tidak, tidak bisa."

"Setiap agama hidup dengan penuh rasa hormat satu sama lain. Itu sebabnya, tidak mungkin ada publikasi semacam itu di sini, termasuk dengan mempertimbangkan hukum yang ada," jelas Peskov seperti dikutip Moscow Times pekan lalu.

(mdk/pan)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.