LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. DUNIA

"Saya Tak Pernah Membayangkan Harus Melahirkan di Tengah Kondisi Perang"

Anna Tymchenko takut. Dia telah melahirkan selama beberapa jam tapi kampung halamannya dibom dan apartemennya berguncang. Dia dan suaminya terjebak tanpa listrik, tanpa air mengalir maupun dokter.

2022-03-16 07:07:00
Perang Rusia Ukraina
Advertisement

Anna Tymchenko takut. Dia telah melahirkan selama beberapa jam tapi kampung halamannya dibom dan apartemennya berguncang. Dia dan suaminya terjebak tanpa listrik, tanpa air mengalir maupun dokter.

Kota kecil Bucha, 30 kilometer dari ibu kota Ukraina, Kiev, menjadi sasaran bombardir tanpa henti sejak awal perang.

Anna, perempuan 21 tahun, bersama suaminya dan kakaknya, sebelumnya mengungsi di basement blok apartemen tempat tinggal mereka. Tapi ketika jaringan listrik terputus dan pemanas ruangan tak berfungsi, basement itu menjadi gelap gulita dan sangat dingin.

Advertisement

Suami Anna, Volodymyr bingung antara tetap di Bucha atau berusaha melarikan diri. Ketika mereka akhirnya melarikan diri menggunakan mobil, mereka harus kembali ketika mereka mendengar barisan kendaraan militer Rusia menuju jalan yang mereka lalui.

"Kami lalu memutuskan tinggal di apartemen," kata Anna kepada BBC, dikutip Selasa (15/3).

"Saya lebih memilih melahirkan di rumah dan bukan di basement yang berdebu. Saya mengalami sesak napas, paru-paruku sakit," lanjutnya.

Advertisement

Ketika dia melahirkan pada 7 Maret malam, dia meminta bantuan tetangganya. Mereka bersedia datang, tapi tidak ada yang pernah punya pengalaman melahirkan.

Salah satu tetangga Anna, Viktoria Zabrodskaya (49) mengatakan kepada BBC, mereka khawatir jika ada sesuatu yang buruk, mereka tak tahu mesti bagaimana.

Ruangan itu diterangi lilin dan satu-satunya air yang tersedia adalah air dingin di dalam botol-botol.

"Saya tidak pernah membayangkan saya akan melahirkan dalam kondisi seperti itu," kata Anna.

"Itu seperti mimpi. Ini anak pertama saya dan saya tidak tahu apapun."

Berada dalam keputusasaan, tetangga Anna berusaha menghubungi petugas medis, tapi sinyal telepon sangat buruk. Mereka akhirnya bisa menghubungi seorang dokter kandungan di Bucha setelah mendapat sinyal dari balkon. Dokter itu bersedia datang tapi tak ternyata tak pernah muncul.

Keesokan harinya, dokter itu mengirim pesan permintaan maaf dan menjelaskan dia dihentikan patroli pasukan Rusia yang kemudian merusak ponselnya.

Akhirnya Anna melahirkan dibantu para tetangganya. Hanya satu dari mereka, Irina Yazova, yang punya keahlian medis.

"Ketika kepala bayinya muncul, kami takut," kata Viktoria.

"Dia membiru dan kami tidak tahu harus ngapain. Lalu Irina dengan pelan membalik kepala bayi itu dan dia keluar. Awalnya dia tidak menangis, kami mulai memukulinya, dan dia menangis dan kami semua bersorak."

Meninggalkan Bucha

Bayi perempuan itu yang dinamakan Alisa lahir pada 8 Maret, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional dan Volodymyr menangis terharu melihat bayinya.

Dua hari kemudian, diumumkan bahwa Bucha menjadi salah satu koridor evakuasi yang disepakati pemerintah Ukraina dan kementerian pertahanan Rusia.

"Kami semalaman berdiskusi apakah kami pergi atau tidak," kata Anna.

Dia dan suaminya akhirnya memutuskan meninggalkan kota itu dengan bayinya yang baru lahir. Mereka berusaha menghubungi orang-orang menanyakan apakah rute tersebut aman, dan mengunduh aplikas peta di ponsel mereka.

Hari berikutnya, 21 mobil meninggalkan Bucha menuju Kiev. Viktoria, yang membantu Anna melahirkan, menyetir di mobil paling depan, sebuah bendera putih dipasang di mobilnya dan sebuah tanda bertuliskan "Anak-Anak".

"Di jalan kami melihat pemandangan mengerikan," ujar Anna.

"Tidak pernah terpikirkan saya akan melihat hal semacam itu dalam kehidupan hanya - hanya di film-fil. Ada jasad-jasad tergeletak di jalan. Rumah-rumah hancur. Tank Rusia terparkir, mengarahkan moncong mereka ke jalan. Kami takut mereka bisa saja menembak ketika kami lewat."

Setelah beberapa jam, rombongan warga berhasil melewati pos pemeriksaan Rusia dengan aman dan tiba di Kiev, dan dari Kiev mereka menuju jalur yang berbeda.

"Ketika kami keluar, saya tidak henti-hentinya tersenyum," kata Anna.

"Saya tidak bisa percaya kami berhasil melarikan diri."

Anna menikmati waktunya menjadi ibu dan tak sabar mengenalkan Alisa kepada kakek dan neneknya. Tapi sementara banyak keluarganya yang telah meninggalkan Ukraina, dia dan suaminya tidak bisa keluar negeri - dan Anna mengatakan dia masih belum merasa benar-benar aman.

"Semua di pikiran saya itu apa yang terjadi (di Bucha) dan di wilayah negara lainnya," ujarnya.

"Tidak dapat dipercaya, tapi kami berharap kami bisa segera kembali ke rumah."

(mdk/pan)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.