LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. DUNIA

Rusia Larang Media Lokal Tayangkan Wawancara dengan Presiden Ukraina

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy diwawancarai selama 90 menit melalui Zoom oleh empat jurnalis ternama Rusia. Namun pemerintah Rusia melarang media menerbitkan wawancara tersebut.

2022-03-28 12:44:37
Rusia Serang Ukraina
Advertisement

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy diwawancarai selama 90 menit melalui Zoom oleh empat jurnalis ternama Rusia. Beberapa jam kemudian, Kremlin menanggapi dan menyampaikan kepada media Rusia "tentang perlunya menahan diri untuk tidak mempublikasikan wawancara ini."

Namun para jurnalis yang berbasis di luar Rusia tetap menerbitkannya. Mereka yang masih ada di Rusia mengikuti permintaan Kremlin tersebut.

Langkah ini dinilai sebagai upaya penyensoran yang luar biasa pemerintahan Presiden Vladimir Putin ketika invasinya ke Ukraina memasuki bulan kedua.

Advertisement

Dalam wawancara itu, Zelenskiy menyebut Rusia lambat untuk mengambil mayat tentaranya yang tewas.

"Mereka pertama-tama menolak, lalu mereka memberikan beberapa kantong pada kami," kata Zelenskiy, menyebut soal upaya Ukraina menyerahkan jasad tentara Rusia.

"Dengar, bahkan ketika seekor anjing atau seekor kucing mati, orang tidak melakukan hal ini," lanjutnya, dikutip dari The New York Times, Senin (28/3).

Advertisement

Dalam wawancaranya itu, Zelenskiy menggunakan bahasa Rusia. Empat jurnalis yang mewawancarai Zelenskiy yaitu Ivan Kolpakov, editor Meduza, situs berita berbahasa Rusia berbasis di Latvia; Vladimir Solovyov, wartawan Kommersant, harian berbasis di Moskow; Mikhail Zygar, jurnalis independen Rusia yang terbang ke Berlin setelah perang pecah; dan Tikhon Dzyadko, editor saluran televisi independen yang sementara ditutup The Rain, yang meninggalkan Moskow menuju Tbilisi, Georgia.

Setelah mereka selesai mewawancarai Presiden Zelenskiy, para jurnalis ini mengunggahnya di media sosial, berjanji mereka akan segera menerbitkan hasil wawancaranya. Beberapa jam kemudian, regulator telekomunikasi Rusia, Roskomnadzor, mengeluarkan pernyataan mengarah pada media Rusia dan meminta jangan menayangkan hasil wawancara tersebut. Roskomnadzor juga memperingatkan penyelidikan telah diluncurkan terhadap wartawan yang terlibat untuk meminta pertanggungjawaban mereka.

Awal bulan ini, Putin menandatangani UU yang berpotensi mengkriminalisasi laporan media yang memberitakan soal invasi Ukraina, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Novaya Gazeta, koran independen yang redaktur pelaksananya pemenang Nobel Perdamaian 2021 Dmitri Muratov, memutuskan tidak menerbitkan wawancara tersebut, walaupun Zygar mempertanyakan keputusan Muratov tersebut. Tidak seperti banyak jurnalis Rusia lainnya, Muratov tetap berada di Rusia dan korannya tetap terbit terlepas ada UU baru tersebut, walaupun harus menggunakan terminologi "operasi militer khusus" untuk perang tersebut dan bukan invasi.

"Kami dipaksa tidak menerbitkan wawancara ini," kata Muratov melalui telepon, menekankan bahwa korannya berbasis di Rusia dan berada di bawah yurisdiksi hukum Rusia.

"Ini penyensoran pada masa 'operasi khusus'."

Kommersant, pada Senin pagi waktu Moskow juga belum menerbitkan wawancara tersebut di situs webnya; Solovyoy tidak menanggapi permintaan komentar. Belum jelas apakah dia atau korannya akan menghadapi konsekuensi hukum karena melakukan wawancara tersebut.

Kolpakov, Dzyadko, dan Zygar yang ketiganya berbasis di luar Rusia, menerbitkan wawancara tersebut, dalam bentuk tulisan dan di YouTube. Walaupun situs Meduza diblokir di Rusia, YouTube masih bisa diakses.

Video wawancara itu telah ditonton lebih dari 1 juta kali dalam beberapa jam setelah diterbitkan, memberi gambaran berbeda terkait perang tersebut kepada orang Rusia, tidak seperti yang mereka saksian setiap hari di layar TV.

"Sangat penting bagi kami untuk berbicara, bagi dia (Zelenskiy) untuk menyampaikan kepada pendengar orang Rusia," kata Zygar dari Berlin saat dihubungi melalui telepon.

Setelah ketiga orang itu menerbitkan wawancaranya dengan Zelenskiy, kantor kejaksaan Rusia mengeluarkan ancaman, mengatakan akan melakukan "penilaian hukum" atas pernyataan Zelenskiy dan hasil wawancaranya, mengingat "konteks propaganda massal anti-Rusia dan penempatan reguler informasi palsu tentang tindakan Federasi Rusia" di Ukraina.

"Ini artinya mereka gugup. Mungkin mereka melihat warganya mulai mempertanyakan situasi di negara mereka sendiri," kata Zelenskiy melalui video di Telegram menanggapi upaya penyensoran Kremlin.

Baca juga:
Skenario Rusia Memecah Ukraina Seperti Korea Utara dan Korea Selatan
Kondisi Hancur Lebur Kota Mariupol Usai Serangan Rusia
Putin dan Erdogan Sepakat Perundingan Damai Rusia-Ukraina Digelar di Istanbul
Presiden Ukraina: Tak Ada Kesepakatan Damai dengan Rusia Tanpa Gencatan Senjata
Rusia Relokasi Ribuan Warga Mariupol Ukraina ke Wilayahnya

(mdk/pan)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.