Resolusi DPR AS: Kejahatan Militer Myanmar terhadap Rohingya adalah Genosida
Resolusi itu mendapat dukungan sebanyak 349 suara berbanding satu. Dalam resolusi itu juga ada seruan untuk 'segera mengampuni dan membebaskan wartawan Reuters Wa Lone dan Kyaw Soe Oo yang sudah satu tahun dipenjara lantaran mengungkap pembantaian etnis muslim Rohingya di Myanmar'.
Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat hari ini mengeluarkan resolusi yang menyatakan kejahatan militer Myanmar terhadap warga etnis muslim Rohingya adalah genosida.
"Amerika Serikat punya kewajiban moral untuk menyebut kejahatan ini genosida. Dengan tidak menyebut begitu maka itu sama dengan melindungi pelaku kejahatan dan menghalangi upaya untuk membawa mereka ke pengadilan. Dengan resolusi ini maka DPR memenuhi tugasnya untuk kewajiban itu," kata Kepala Komisi Luar Negeri Ed Royce dalam pidatonya, seperti dilansir laman CNN, Jumat (14/12).
Resolusi itu mendapat dukungan sebanyak 349 suara berbanding satu. Dalam resolusi itu juga ada seruan untuk 'segera mengampuni dan membebaskan wartawan Reuters Wa Lone dan Kyaw Soe Oo yang sudah satu tahun dipenjara lantaran mengungkap pembantaian etnis muslim Rohingya di Myanmar'.
Berbeda dengan DPR, Kementerian Luar Negeri As pekan ini berkeras mempertahankan pendapatnya untuk tidak menyebut kejahatan itu sebagai genosida. Padahal laporan Kemenlu AS yang dikeluarkan pada September itu menyebut berbagai kejahatan dilakukan militer Myanmar, seperti pembantaian massal, penyiksaan, pemerkosaan dalam skala besar-besaran, menyebar, dan meneror sampai membuat warga Rohingya mengungsi.
Perserikatan Bangsa-bangsa sebelumnya menyerukan para jenderal Myanmar diseret ke Pengadilan Internasional atas tuduhan genosida.
Baca juga:
CEO Twitter Jack Dorsey Tuai Kecaman Usai Bertapa di Myanmar
Bela Rohingya, Massa Geruduk Kedubes Myanmar
Dianggap Gagal Tangani Krisis Rohignya, Aung San Suu Kyi Diasingkan Selama KTT ASEAN
Myanmar Menahan 106 Muslim Rohingya Hendak Mengungsi Naik Kapal
Mahathir Desak Myanmar Akui Status Kewarganegaraan Rohingya
Warga Rohingya kabur dari pengungsian di Bangladesh, takut dipulangkan ke Myanmar
Bertemu Aung San Suu Kyi, Mike Pence Sebut Penyiksaan Warga Rohingya Tak Termaafkan