LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. DUNIA

Remaja Ukraina Tinggalkan Kampus Demi Angkat Senjata Membela Negara

Sebagian besar dari mereka belum lama ini keluar dari kampus. Mereka menceritakan, setelah tiga hari pelatihan dasar mereka akan langsung menuju garis depan pertempuran atau dekat dari garis depan.

2022-03-14 13:22:58
Perang Rusia Ukraina
Advertisement

Baru seminggu yang lalu wartawan BBC bertemu sekelompok pria muda yang menjadi sukarelawan di pusat kota Kiev untuk bertarung demi Ukraina.

Sebagian besar dari mereka belum lama ini keluar dari kampus. Mereka menceritakan, setelah tiga hari pelatihan dasar mereka akan langsung menuju garis depan pertempuran atau dekat dari garis depan.

Maksym Lutsyk (19), mahasiswa jurusan biologi mengatakan dia tidak masalah menjadi tentara setelah kurang dari sepekan berlatih. Selama lima tahun dia anggota Pramuka, di mana dia tidak hanya belajar keterampilan cara hidup di hutan belantara, tapi juga pelatihan senjata. Dia berusia 10 tahun ketika perang panjang Ukraina dengan separatis yang didukung Moskow mulai pecah pada 2014.

Advertisement

Maksym bergabung dengan militer bersama temannya, Dmytro Kisilenko (18), teman satu kampusnya.

Maksym pergi untuk bergabung dengan temannya Dmytro Kisilenko, 18, yang sedang belajar ekonomi di universitas yang sama.

Beberapa pemuda mengenakan bantalan lutut yang terlihat terlalu kecil, seolah-olah mereka datang dengan skateboard di hari ulang tahunnya yang ke-12 tahun. Beberapa membawa kantong tidur. Salah satunya membawa matras yoga. Ketika mereka menunggu di luar bus yang akan membawa mereka ke tempat latihan, mereka tampak seperti teman dalam perjalanan ke festival. Masing-masing telah diberikan hak membawa senapan serbu Kalashnikov.

Advertisement

"Saya telah terbiasa dengan senapan saya. Saya belajar bagaimana menembak dan bagaimana beraksi dalam pertempuran, juga banyak hal lainnya yang bakal sangat penting dalam pertempuran dengan Rusia," jelas Dmytro, dikutip dari BBC, Senin (14/3).

Maksym tampak lebih serius, tidak seperti yang lainnya yang terlihat santai.

"Saya merasa jauh lebih pede daripada sebelumnya, karena kami mendapat cukup pengetahuan taktik, bela diri, taktik medis dan bagaimana melakukan sesuatu di medan pertempuran," ujarnya.

Setengah berseloroh, dia mengatakan ingin melihat bendera Ukraina berkibar dari Kremlin.

Pertanyaan di benak semua orang saat ini adalah apakah pertempuran akan berlangsung di Kiev.

"Itu pasti mungkin" kata Dmytro.

"Kita hanya harus menghentikan mereka di sini, karena jika mereka sampai ke Kiev, perang ini mungkin akan berakhir."

Siap bertarung

Mereka berasal dari kota yang sama di dekat perbatasan Rusia, yang sedang digempur. Keluarga mereka masih di sana. Saat ditanya apa yang orang tua mereka pikirkan tentang tugas yang mereka kerjakan, Maksym berseloroh ibunya memintanya diam di tenda dan jadi relawan memasak. Dia tidak menceritakan secara detail apa yang mereka kerjakan karena tidak ingin mengkhawatirkan orang tua mereka.

Orang tua Dmytro tahu apa yang anaknya lakukan. Dia mulai menjadi relawan membuat bom Molotov dan setelah beberapa hari dia menelepon ayahnya menceritakan dia memutuskan bergabung dengan pasukan pertahanan teritorial. Ayahnya mengatakan jangan terlalu ngotot menjadi pahlawan.

"Ayahku bangga dengan apa yang aku lakukan," ujarnya.

Saat ditanya apakah dia merasa takut dengan kemungkinan yang bakal dia hadapi di depan, dia menjawab: "Enggak terlalu, tapi merasa takut itu manusiawi, dan tentu di dalam jiwa saya merasa sedikit takut, karena tidak ada orang yang ingin mati, bahkan kalaupun itu demi negaramu. Jadi, kematian bukanlah sebuah pilihan bagi kami."

Dmytro dan Maksim menceritakan tentang mimpi-mimpi mereka di masa depan, bersenang-senang dengan kawan-kawannya menyelesaikan kuliah, berkarier, dan berkeluarga.

Dua pemuda itu kembali bekerja di pos pemeriksaan. Tentara profesional berada beberapa mil di depan, menghadap langsung ke Rusia.

Tetapi jika Rusia datang, seperti semua sukarelawan, Maksym dan Dmytro akan menembak keluar dari parit yang mereka bantu gali ke tanah sekitarnya, di mana kotak-kotak bom Molotov sedang menunggu - botol-botol tua berisi bensin dan potongan-potongan polistiren dan diisi dengan kain yang siap dinyalakan untuk melumpuhkan tank musuh.

Semua orang di Kiev sedang menunggu apa yang mungkin menjadi pertempuran kunci perang Rusia-Ukraina. Tentara, warga sipil yang menjadi sukarelawan, bersama dengan Maksym dan Dmytro dan sukarelawan lain bersiap-siap untuk bertarung dengan mereka.

(mdk/pan)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.