Ratusan ribu Yahudi ultra-Ortodoks protes beleid wajib militer
Aturan itu bakal mengharuskan mereka ikut wajib militer.
Lebih dari 300 ribu warga Yahudi ultra-Ortodoks kemarin berunjuk rasa di Yerusalem. Mereka menentang rancangan undang-undang mewajibkan golongan itu mengikuti wajib militer. Knesset bakal mengesahkan draf beleid ini dalam beberapa pekan mendatang.
Protes ini berlangsung dengan cara menggelar misa massal dengan penjagaan sekitar 3.500 polisi, seperti dilansir surat kabar the Daily Mail, Senin (3/3). Demonstrasi kali ini terbilang istimewa. Untuk kali pertama, perempuan dan anak-anak boleh ikut. Buat perdana pula, tiga kelompok Yahudi ultra-Ortodoks - Lithuania, Hassidik, dan Sephardik - satu suara.
Para pengunjuk rasa membawa spanduk bertulisan "Torah suci bakal menang" dan "Tolong selamat kami dari tangan saudara-saudara kami". Sejumlah rabbi membaca doa lewat pengeras suara. Unjuk rasa ini memblokade gerbang Yerusalem dan memacetkan sejumlah jalan di kota itu.
Sejak negara Israel berdiri pada 1948, kaum Yahudi ultra-Ortodoks jumlahnya delapan persen dari sekitar delapan juta penduduk negara itu, dibebaskan dari aturan wajib militer. Namun dalam pemilihan umum tahun lalu isu ini kembali diangkat sehingga kelompok kanan tengah berhasil menang.
Golongan ultra-Ortodoks menegaskan kaum remaja mereka bisa berbakti kepada negara dengan berdoa dan mempelajari agama, warisan budaya, dan cara hidup sesuai Yudaisme. Tapi kelompok sekuler menganggap pengecualian itu tidak adil.
Jika rancangan undang-undang itu disahkan maka kuota Yahudi ultra-Ortodoks wajib mengikuti wajib militer atau layanan sipil. Jika menolak mereka terancam dipenjara.
Beleid ada saat ini mewajibkan lelaki dan perempuan Israel berusia minimal 18 tahun mengikuti wajib militer. Tiga tahun bagi pria dan dua tahun buat wanita.(mdk/fas)