LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. DUNIA

Pupusnya kemenangan Amerika di Afghanistan

Pupusnya kemenangan Amerika di Afghanistan. Sejumlah pengamat menilai, setelah menghabiskan dana perang lebih dari USD 100 miliar dan ribuan nyawa melayang, setelah dua pekan paling berdarah di Kabul, Amerika kini tampaknya memilih status quo.

2018-02-03 07:31:00
Taliban
Advertisement

Setelah 16 tahun berperang di Afghanistan, sejumlah ahli mulai berhenti mempertanyakan kemenangan seperti apa yang bisa diraih Amerika. Mereka kini berbalik dan mulai menimbang kekalahan macam apa yang akan dialami Amerika.

Ambisi Amerika memenangkan perang di Afghanistan kini sudah pupus dan masa depan Afghanistan menjadi tak menentu.

"Saya kira sekarang ini tidak ada lagi pengamat yang melihat perang Afghanistan bisa dimenangkan (AS)," ujar Laurel Miller, pengamat politik di RAND Corporation dan perwakilan khusus Kementerian Luar Negeri AS untuk Afghanistan dan Pakistan.

Advertisement

Sejumlah pengamat menilai, setelah menghabiskan dana perang lebih dari USD 100 miliar dan ribuan nyawa melayang, setelah dua pekan paling berdarah di Kabul, Amerika kini tampaknya memilih status quo.

Miller menyebut strategi AS kini adalah 'mencegah kalahnya pemerintah Afghanistan dan mencegah kemenangan Taliban' selama mungkin. Cepat atau lambat, suka tidak suka, Amerika dan Afghanistan, akan menghadapi akhir perang.

Dilansir dari laman the New York Times, Kamis (1/2), menurut pakar Afghanistan dari Carnegie Endowment for International Peace, Frances Z Brown, ada beberapa skenario yang bisa terjadi.

Advertisement

Skenario pertama, koalisi Amerika akan mengabaikan upaya untuk membentuk negara terpusat dan memberikan kesempatan kepada rakyat Afghanistan untuk membangun negara mereka sendiri dari bawah.

Itu artinya pemerintah pusat hanya sebagai perantara di antara para pemimpin lokal dan pemimpin perang. Idealnya, seiring berjalannya waktu, Afghanistan akan menjalankan ekonominya kemudian merangkul demokrasi dan akhirnya mencapai perdamaian dan stabilitas.

"Tapi dari kasus yang sudah-sudah ini semua butuh waktu bergenerasi," ujar Brown.

Skenario ini menuntut toleransi bagi kehadiran Taliban di kawasan terpencil dan kondisi bisa memicu kemelut krisis lebih pelik.

militan taliban di afghanistan ©AP/Allauddin Khan



Yang berikutnya adalah skenario ala Somalia.

Pemerintah Afghanistan akan melepaskan kota-kota besar dan beralih menjadi sistem federal, seperti yang dilakukan Somalia pada 2012. Kekuasaan bisa diraih oleh para tokoh masyarakat dan para pemimpin perang, termasuk Taliban yang bisa bangkit dari kawasan pedalaman.

Model Somalia ini bisa 'membantu' terjadinya perpecahan. Warga lokal bisa berupaya sendiri untuk berdamai dengan Taliban dan di beberapa daerah terpencil hal inilah yang sedang terjadi.

Baca juga:
Menimbang bangkitnya kekuatan Taliban di Afghanistan
Di balik taktik anyar Taliban serang warga sipil Afghanistan
Trump kecam serangan bom di Afghanistan, desak tindakan terhadap Taliban
Bom bunuh diri kembali meledak di Afghanistan, 40 orang dilaporkan tewas
Pasukan Afghanistan menggerebek penjara Taliban, 30 tahanan diselamatkan

(mdk/pan)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.