Puluhan Dokter Pakistan Ditangkap Karena Unjuk Rasa Kekurangan APD
Polisi di Kota Quetta, Provinsi Balokhistan, Pakistan menangkap sedikitnya 50 dokter yang berunjuk rasa karena kurangnya APD (Alat Pelindung Diri) untuk petugas medis di garda terdepan dalam memerangi virus corona.
Polisi di Kota Quetta, Provinsi Balokhistan, Pakistan menangkap sedikitnya 50 dokter yang berunjuk rasa karena kurangnya APD (Alat Pelindung Diri) untuk petugas medis di garda terdepan dalam memerangi virus corona.
Perwakilan Asosiasi Dokter Muda (YDA), yang mengorganisir unjuk rasa, mengatakan sedikitnya 67 anggotanya ditangkap pada Senin.
Perintah pembebasan telah diterbitkan bagi mereka yang ditangkap, kata juru bicara YDA, Dr Rahim Khan Babar. Namun para dokter itu menolak meninggalkan kantor polisi di mana mereka ditahan sampai permintaan mereka terpenuhi.
"Saya ditangkap kemarin, saya masih di kantor polisi," kata Babar kepada Aljazeera, dilansir Rabu (8/4).
"Mereka telah memerintahkan pembebasan kami, tapi kami menolak meninggalkan kantor polisi, karena tak ada langkah apapun yang diambil. Dokter datang untuk meminta peralatan, dan Anda memukul mereka dan kemudian menahan mereka. Hukum macam apa ini?"
Tayangan video unjuk rasa pada Senin itu menunjukkan para dokter meneriakkan slogan dan mengkritik pemerintah provinsi. Sesaat kemudian, polisi datang membubarkan unjuk rasa, bentrok dengan pengunjuk rasa dan menangkap puluhan orang.
Tenaga Medis Mogok Massal
Pada Selasa, para dokter di seluruh wilayah provinsi itu melakukan mogok di bangsal perawatan non kritis memprotes penangkapan dan kurangnya peralatan.
Angka kasus virus corona di Pakistan meningkat tajam pada Senin, dengan 584 kasus tambahan sehingga angka kasus aktif menjadi 3.378. Sementara itu tercatat 54 kasus kematian dan sedikitnya 429 pasien sembuh sejak wabah mulai pada akhir Februari.
Para dokter mengatakan, minimnya persiapan pemerintah mengakibatkan kondisi bahaya bagi petugas medis di rumah sakit-rumah sakit utama.
"Di pusat trauma, sebelum virus corona, kita punya cukup peralatan jika kami melakukan operasi di ruang operasi, kami punya masker dan topi bedah," kata Babar, yang bekerja di rumah sakit umum.
"Sekarang kami bahkan tidak punya itu."
Babar mengatakan kekurangan peralatan berarti hanya para petugas medis yang ditempatkan di bangsal khusus virus corona yang memiliki akses ke APD, hal ini membuat dokter yang bekerja di bangsal lain rentan terhadap penyebaran virus yang sangat menular ini.
Sejauh ini, sedikitnya 18 dokter terinfeksi virus corona di Balokhistan, berdasarkan data pemerintah. Di provinsi ini, tercatat ada 202 kasus, satu kematian, dan 63 pasien sembuh.
Pejabat pemerintah mengklaim ketersediaan APD cukup di rumah sakit yang ditunjuk untuk menangani pasien Covid-19. Dia mengatakan unjuk rasa pada Senin lebih fokus pada sengketa kontrak yang sedang berlangsung.
Pemerintah Sebut Stok APD Cukup
Liaquat Shahwani, juru bicara pemerintah provinsi, mengatakan perselisihan sedang dicari penyelesaiannya dan pemerintah provinsi merekrut 1.400 dokter untuk mengatasi peningkatan kebutuhan selama krisis virus corona.
"Pemerintah Balokhistan telah menyediakan masker yang cukup, peralatan dan obat-obatan," kata Shahwani. "Hanya ada satu rumah sakit di seluruh Balokhistan yang berurusan dengan pasien virus corona - rumah sakit Sheikh Zayed (di Quetta) - dan kami telah menyediakan semua peralatan di sana."
Pemerintah mengatakan telah menyediakan 2.000 APD, 50.000 masker N95, 32.000 masker bedah dan 1.000 penutup kepala ke rumah sakit provinsi. Pada hari Selasa, militer Pakistan mengatakan akan mengirim lebih banyak PPD untuk membantu dokter di Balokhistan.
(mdk/bal)