Presiden Bolivia Evo Morales Mundur
Presiden Bolivia, Evo Morales mengundurkan diri di tengah kekacauan menyusul kemenangannya dalam Pemilu yang disengketakan bulan lalu.
Presiden Bolivia, Evo Morales mengundurkan diri di tengah kekacauan menyusul kemenangannya dalam Pemilu yang disengketakan bulan lalu. Pada Minggu, pemantau internasional menyerukan hasil Pemilu dibatalkan, menyebut telah menemukan manipulasi pada Pemilu yang berlangsung 20 Oktober lalu.
Dilansir dari laman BBC, Senin (11/11), Morales setuju dengan temuan tersebut dan mengumumkan keinginannya untuk Pemilu baru, setelah merombak badan pemilihan umum negara. Tetapi para politikus - dan pimpinan militer dan kepolisian - mendesaknya mengundurkan diri.
Beberapa sekutunya diserang awal pekan ini, dan mengatakan rumah mereka telah dibakar. Dalam sebuah pidato yang ditayangkan televisi, Morales mengatakan akan mundur sebagai presiden dan mendesak pengunjuk rasa untuk menghentikan aksinya.
"Hentikan menyerang saudara-saudara kita, berhenti membakar dan menyerang," ujarnya.
Militer disebut meminta Morales mundur demi stabilitas Bolivia. Sementara bagi banyak orang, Morales adalah pemimpin yang tidak demokratis. Sementara bagi yang lain, terutama orang miskin Bolivia, Evo Morales adalah seorang presiden yang memberikan suara kepada jutaan orang, pemimpin pribumi pertama yang pernah dimiliki Bolivia, berhasil membuat masyarakat yang sangat tidak setara menjadi lebih inklusif.
Para pendukungnya menyebut ini kudeta - sementara pihak yang kontra menilai ini adalah akhir dari tirani. Ini adalah hari yang penuh ketidakpastian di negara termiskin di Amerika Selatan itu. Wakil Presiden, Alvaro Garcia Linera, Ketua Senat Adriana Salvatierra, juga mengundurkan diri.
Unjuk Rasa Anti Pemerintah
Bolivia dilanda protes anti-pemerintah selama berminggu-minggu, menyusul laporan kecurangan pemilu. Bentrokan pertama kali berkobar pada malam pemilihan presiden setelah hasil perhitungan dihentikan selama 24 jam. Hasil akhir memberi Morales sedikit lebih dari 10 persen poin yang dia butuhkan untuk menang langsung di putaran pertama Pemilu.
Setidaknya tiga orang tewas dalam bentrokan berikutnya. Beberapa petugas polisi berseragam juga bergabung dengan para demonstran.
Pada hari Minggu, Organisasi Negara-negara Amerika, yang memantau pemilihan, mengatakan telah menemukan bukti manipulasi data skala besar, dan tidak dapat mengesahkan hasil Pemilu sebelumnya.
Tekanan terus berlanjut untuk Morales, ketika beberapa sekutu politiknya mengundurkan diri, beberapa mengungkapkan kekhawatiran atas keselamatan keluarga mereka.
Panglima militer, Jenderal Williams Kaliman, juga mendesak Morales untuk mengundurkan diri "untuk memungkinkan pengamanan dan menjaga stabilitas". Militer juga mengatakan akan melakukan operasi untuk "menetralisir" setiap kelompok bersenjata yang menyerang para demonstran.
Reaksi Oposisi
Pemimpin oposisi, Carlos Mesa, yang berada di urutan kedua saat Pemilu, berterima kasih kepada para pengunjuk rasa atas apa yang disebutnya sebagai "heroisme perlawanan damai".
Dalam sebuah cuitan, Mesa menggambarkan pengunduran diri Morales sebagai "akhir dari tirani" dan "pelajaran sejarah", dan mencuit "Hidup Bolivia!"
Namun, para pemimpin Kuba dan Venezuela - yang sebelumnya menyuarakan dukungan mereka untuk Morales - mengecam peristiwa itu sebagai "kudeta".
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menggambarkannya sebagai upaya "keras dan pengecut" terhadap demokrasi, sementara pemimpin Venezuela Nicolas Maduro mengatakan di Twitter, "Kami dengan tegas mengutuk kudeta terhadap saudara presiden kami."
Meksiko mengatakan sedang mempertimbangkan untuk memberikan suaka kepada Morales.
Siapa Evo Morales?
Morales, adalah presiden pribumi pertama Bolivia, menjabat sejak 2006. Dia mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat berturut-turut dalam Pemilu Oktober setelah keputusan kontroversial oleh pengadilan konstitusi untuk membatalkan batas masa jabatan presiden.
Dalam referendum 2016, mayoritas memilih "tidak" untuk penetapan batas masa jabatan pemimpin Bolivia. Namun, partai Morales membawa masalah ini ke pengadilan konstitusional, yang menghapuskan batasan istilah sama sekali.
(mdk/pan)