PM Hungaria sebut imigrasi 'racun' bagi Eropa
PM Viktor Orban termasuk pemimpin Eropa paling gigih menolak arus pengungsi Timur Tengah
Perdana Menteri sayap kanan Hungaria Viktor Orban mendeskripsikan ketibaan para pencari suaka di Eropa sebagai 'sebuah racun' bagi negara Benua Biru tersebut. Dia mengatakan, negara yang dipimpinya tidak membutuhkan bahkan seorang migran.
"Hungaria tidak membutuhkan seorang pengungsi untuk bekerja demi ekonomi, atau untuk menopang populasi itu sendiri, atau demi sebuah negara agar memiliki sebuah masa depan," ujar Orban dalam konferensi pers bersama Kanselir Austria Christian Kern, di Budapest, seperti dikutip dari AFP, Rabu (27/7).
Karenanya, Orban dengan tegas menyebutkan peraturan pengungsi Eropa tidak diperlukan.
"Siapapun yang membutuhkan pengungsi dapat mengambil mereka, tapi jangan serahkan mereka pada kami. Kami tidak membutuhkan mereka," sambung Orban.
Orban juga menambahkan, setiap pengungsi yang datang memiliki resiko keamanan publik dan teror.
"Untuk kami, migrasi bukanlah sebuah solusi tapi sebuah masalah. Bukan obat namun racun, jadi kami tidak membutuhkannya," tutur dia.
Orban merupakan salah satu pemimpin negara di Uni Eropa yang menolak adanya pembagian migran ke 28 negara anggota dibawah mandatori sistem kuota. Hungaria sendiri telah menandatangani referendum menolak imigran yang akan dikeluarkan 2 Oktober mendatang.
Ratusan ribu imigran dan pengungsi berusaha masuk ke Austria dan Hungaria pada 2015. Namun gelombang pengungsi tersebut menurun setelah pemerintah Orban menutup perbatasan musim gugur lalu dan menegaskan hukum anti-migran di negaranya.
Meski demikian, gelombang pengungsi bertambah lagi beberapa bulan terakhir, hampir mencapai 18 ribu jiwa pada tahun ini.
Budapest tetap berpegang teguh pada hukum meeka dengan menutup perbatasan, yang menyebabkan banyak migran ditemukan sekitar delapan kilometer dari perbatasan Hungaria dan Serbia.
(mdk/ard)