Pilot harusnya memutari awan bukan terbang di atasnya
Saran itu diutarakan ahli penerbangan dari perusahaan konsultan asal Amerika Serikat.
Menanggapi hilangnya pesawat AirAsia QZ8501, ahli penerbangan dari perusahaan konsultan Martin Consulting asal Amerika Serikat, Mark Martin mengatakan, prosedur standar bagi setiap pilot pesawat dalam cuaca buruk adalah terbang memutari awan, bukan terbang di atasnya.
Situs Asia One melaporkan, Senin (29/12), pilot pesawat rute Surabaya-Singapura yang membawa 162 penumpang itu sebelumnya terbang di ketinggian 32 ribu kaki dan diminta terbang ke ketinggian 38 ribu kaki untuk menghindari awan.
"Meski memiliki kelengkapan radar di pesawat, praktik standarnya adalah terbang mengitari cuaca buruk, ketimbang terbang di atasnya," kata dia.
Jika pesawat memasuki awan cumulonimbus yang banyak mengandung petir dan bercuaca dingin, kata dia, petunjuk peralatan di pesawat juga bisa terpengaruh dan membuat pilot harus bermanuver.
Dengan membawa 162 orang, pesawat tampaknya cukup "berat" dan bahan bakar tidak sepenuhnya terbakar untuk mendorong pesawat naik di tengah cuaca dingin awan cumulonimbus.
Baca juga:
Ini situasi udara di lokasi hilang AirAsia QZ8501
Cari AirAsia QZ 8501, Basarnas fokus di lokasi sinyal terakhir
Kabasarnas: Badan pesawat Air Asia diperkirakan di dasar laut
Prihatin AirAsia hilang, Wapres JK batalkan tahun baru di Bali
Ini penjelasan awan Cumulonimbus
Mau liburan ke Singapura, calon pengantin hilang bersama AirAsia