Persekusi di Malaysia, 2 pastor dan 1 pemuka Syiah hilang
Mereka diculik sekelompok orang tak dikenal. Polisi dianggap mengabaikan laporan soal hilangnya ketiga orang itu.
Peristiwa penumpasan terhadap seorang atau sejumlah warga (persekusi) bukan cuma sedang ramai di Indonesia. Negara tetangga Malaysia juga terjadi hal sama.
Sudah lebih dari seratus hari Pastur Raymond Koh hilang. Menurut saksi dan rekaman video saat kejadian, dia diculik sekelompok orang pada 13 Februari lalu. Rekaman dari kamera pengawas tersebar di dunia maya memperlihatkan sejumlah mobil SUV memepet kendaraan dikemudikan Raymond hingga berhenti di jalan raya. Lalu beberapa lelaki langsung menyeret dia ke dalam.
Konon Raymond dituding melakukan Kristenisasi. Dan hal itu dianggap sebagai kejahatan di Malaysia.
Keluarga juga bingung dengan nasib Raymond. Mereka mengaku sudah mengadu kepada para pegiat hak asasi hingga polisi, tetapi belum ada hasil. Malah aparat keamanan seolah tak berbuat apa-apa terkait laporan itu.
"Apakah negara terlibat dalam hal ini? Itu pertanyaan yang sulit dijawab. Namun, apakah saya bisa membuktikan ada orang yang dekat dengan kekuasaan ada hubungannya dengan ini? Saya tidak bisa," kata Suzanna Liew, istri Raymond, seperti dilansir dari laman The Guardian, Kamis (8/6).
Liew menyatakan pelaku seperti terorganisir dengan baik dan punya sokongan duit kuat. Itu sebabnya dia curiga ada kekuatan besar di baliknya.
Seorang pastur lain, Joshua Hilmy, dan istrinya, Ruth, juga tak diketahui keberadaannya setelah diculik. Joshua tadinya adalah seorang muslim yang memilih berpindah keyakinan.
Kaum minoritas lain yang hilang karena diculik adalah Amri Che Mat. Dia kabarnya 'diambil' pada November tahun lalu. Konon, dia menyebarkan ajaran Syiah, yang tidak diakui oleh kalangan ulama Malaysia berpaham Sunni. Sang istri, Norhayati Ariffin, mengeluhkan sikap polisi seolah abai atas laporannya yang kehilangan suaminya.
Dua anak perempuan Raymond, Esther dan Elizabeth Koh, mengatakan mereka sudah tidak yakin dengan polisi. Sebab saat ditanya soal perkembangan laporan tentang keberadaan ayah mereka aparat selalu memberi jawaban belum menemukan petunjuk. Mereka juga diminta tidak berbicara kepada media massa soal perkara menimpa sang ayah. Mereka cuma dengar-dengar kalau sang ayah dituduh mengajarkan paham Kristen terhadap warga muslim.
Keluarga Raymond masih berharap ayah dan suami mereka kembali dalam keadaan hidup. Jikalau sudah meninggal pun mereka meminta ditunjukkan di mana makamnya. Sampai saat ini mereka menolak menebak-nebak bagaimana nasib Raymond.
"Kami mencoba terus berharap, meski saat ini tidak ada petunjuk. Yang kami tahu adalah ayah dibawa entah ke mana oleh sejumlah orang dan menghilang," kata Elizabeth.
Lantas pada 24 Mei lalu kepolisian Malaysia tiba-tiba menyatakan telah menangkap pelaku penculikan Raymond. Namun, mereka tidak merinci siapa mereka dan bagaimana nasib Raymond. Polisi juga menyangkal tuduhan mengabaikan kasus itu.
"Jangan menuduh tanpa bukti. Kalau punya bukti, silakan datang dan berikan kepada kami. Kami harus menyelidiki semua, bukan cuma soal penculikan, tetapi juga dugaan Kristenisasi," kara Inspektur Jenderal Khalid Abu Bakar.
Pendiri lembaga nirlaba Caged (Kelompok Aksi Warga untuk Penghilangan Paksa), Thomas Fann, menduga dalam kejadian ini negara terlibat langsung maupun tidak. "Kita mempunyai alasan karena ada hubungan dari semua insiden ini. Seluruh korban adalah pemuka agama," kata Thomas.
Direktur Eksekutif kelompok hak asasi Malaysia (SUARAM), Sevan Doraisamay, meyakini apa yang dilakukan sekelompok orang itu adalah bentuk persekusi dan proses hukum di luar sistem. Di lain pihak tidak menutup kemungkinan hal itu adalah pekerjaan penjahat profesional. Namun, kata dia, kalau hal itu terjadi maka siapa orang-orang itu karena bisa beraksi sampai-sampai aparat keamanan Malaysia kesulitan mengungkapnya.
Di Malaysia sekitar 60 persen warganya memeluk Islam. Hal itu juga termaktub dalam undang-undang dasar mereka menyatakan Islam adalah agama resmi orang Malaysia. Sedangkan kaum minoritas seperti Tionghoa dan Tamil tetap diperbolehkan mempraktikkan ajaran agama mereka, sebab aturan itu khusus bagi warga melayu. Namun, belakangan beberapa kelompok warga mencoba menekan kelompok minoritas supaya menghentikan mempraktikkan ajaran agamanya.
"Menurut pengamatan kami ruang kebebasan beragama di Malaysia semakin tergerus beberapa tahun belakangan," kata Direktur Eksekutif Amnesty International Malaysia, Shamini Darshni Kaliemuthu.
Menurut Shamini, kasus menimpa Raymond hingga Amri menjadi contoh kalau toleransi beragama di Malaysia memburuk.