Perempuan Nepal Sedang Menstruasi Tewas di Gubuk Pengasingan
Seorang perempuan di Nepal, Parbati Bogati (21) meninggal dunia setelah diasingkan di gubuk pengasingan karena sedang menstruasi. Ini merupakan tradisi kuno Hindu ratusan abad lalu. Tradisi ini telah dilarang sejak 2005 lalu.
Seorang perempuan di Nepal, Parbati Bogati (21) meninggal dunia setelah diasingkan di gubuk pengasingan karena sedang menstruasi. Ini merupakan tradisi kuno Hindu ratusan abad lalu. Tradisi ini telah dilarang sejak 2005 lalu.
Polisi setempat menyatakan Parbati meninggal setelah menyalakan api untuk menghangatkan dirinya pada Minggu (3/2).
"Sepertinya dia meninggal karena lemas setelah kebakaran. Kami akan tahu lebih jelas setelah laporan otopsi dipublikasikan," kata Kepala Kepolisian Distrik Doti, Lala Bahadur Dhami, dilansir dari Al Jazeera, Selasa (5/2).
Lala Bahadur menambahkan, perempuan muda tersebut berencana menginap di lantai dasar sebuah rumah kosong di dekat tempat tinggalnya setelah tahu gubuk menstruasi umum terlalu ramai.
Para perempuan yang sedang menstruasi diasingkan di sebuah gubuk karena berdasarkan tradisi tersebut, para perempuan tak diinginkan dan tak boleh disentuh selama menstruasi dan setelah melahirkan.
Tahun lalu, pemerintah Kathmandu memberlakukan hukuman penjara tiga bulan dan denda 3.000 rupee (USD 30) bagi siapa pun yang tertangkap menerapkan tradisi ini. Kendati ilegal, tradisi ini masih dipraktikkan di wilayah barat Nepal.
Kematian Parbati terjadi tiga pekan setelah seorang ibu dan dua putranya di daerah dekat Distrik Bajura meninggal karena diduga menghirup asap saat menjalankan tradisi tersebut atau yang disebut chhaupadi. Peristiwa ini mendorong penduduk setempat menghancurkan gubuk chhaupadi di desa mereka dan pemerintah setempat memperingatkan tak akan memberikan layanan kepada siapa pun yang memaksa putri dan menantu perempuan mereka mengikuti praktik terlarang itu.
Ganga Chaudhary, legislator yang terlibat dalam perancangan larangan hukum, mengatakan masih banyak yang harus dilakukan untuk menegakkan hukum dan mengubah norma-norma sosial.
"Kami menyadari bahwa ketentuan hukum tidak cukup untuk mengakhiri praktik semacam itu. Kami perlu bertumpu pada (membangun) kesadaran dan mengedukasi para perempuan," kata Chaudhary.
Baca juga:
Melihat Festival Swasthani Brata Katha di Nepal
Ciptakan Rekor Dunia, Siswa di Nepal Membuat Replika Laut Mati dari Plastik
9 Pendaki gunung di Nepal tewas diduga karena terkena longsor salju
Diterjang badai salju hebat, delapan pendaki gunung Nepal tewas
Deretan aksi pemerkosaan guncang Nepal, pemerintah larang situs porno di internet
Pemain asing Persija bela Nepal di Asian Games 2018