Perempuan Ini Jelajahi Antartika Sendirian Jalan Kaki 40 Hari dalam Suhu Minus 50 C
Preet Chandi, yang dianggap sebagai perempuan kulit berwarna pertama yang menyelesaikan perjalanan tunggal keliling Antartika, telah menyelesaikan ekspedisinya ke kutub selatan hampir sepekan lebih cepat dari jadwal.
Preet Chandi, yang dianggap sebagai perempuan kulit berwarna pertama yang menyelesaikan perjalanan tunggal keliling Antartika, telah menyelesaikan ekspedisinya ke kutub selatan hampir sepekan lebih cepat dari jadwal.
Chandi atau "Polar Preet", harus merasakan suhu -50 derajat Celcius saat dia meluncur 700 mil melintasi Antartika dalam 40 hari, tujuh jam dan tiga menit.
Dia berada di belakang Johanna Davidsonsson dari Swedia, yang berhasil melintasi Antartika dalam waktu 38 hari, 23 jam dan lima menit pada tahun 2016.
Chandi (32) sekarang menjadi pemain ski solo perempuan tercepat ketiga untuk ekspedisi di belakang Davidsson dan Hannah McKeand dari Inggris, yang mencatat waktu 39 hari, sembilan jam dan 33 menit pada tahun 2006.
Dia juga tercatat menjadi orang pertama yang mencapai kutub selatan dengan berjalan kaki dalam dua tahun ini.
Chandi, seorang fisioterapis Angkatan Darat Inggris ini mengatakan rasanya seperti mimpi bisa mencapai tujuannya.
"Saya berhasil sampai ke kutub selatan di mana sedang turun salju. Saya merasakan begitu banyak emosi saat ini. Saya tidak tahu apa-apa tentang dunia kutub tiga tahun lalu dan saya merasa seperti mimpi akhirnya berada di sini. Sangat sulit bisa sampai sini dan saya ingin berterima kasih kepada semua orang atas dukungan mereka," ungkap Chandi, dikutip dari The Guardian, Kamis (6/1).
"Saya ingin mendorong orang-orang untuk menekan batasan-batasan mereka dan yakin pada diri mereka, dan saya ingin kalian bisa melakukannya tanpa harus dilabeli seorang pemberontak."
"Tak peduli dari manapun kalian berasal atau dari garis awal kalian, setiap orang mulai di manapun," lanjutnya.
Selain suhu beku, Chandi juga bertahan dari angin dengan kecepatan tinggi sampai 60mph dan menarik kereta luncur seberat 90kg melintasi sastrugi, pegunungan paralel seperti gelombang di salju keras yang disebabkan oleh angin.
Dia juga mengalami kelelahan menjelang akhir perjalanan, serta batuk dan sakit yang terus-menerus.
Berangkat pada 24 November dari Hercules Inlet, Chandi bertujuan untuk menyelesaikan perjalanannya dalam 45 hari, membawa jatah yang cukup untuk 48 hari. Pada akhirnya dia menyelesaikan lima hari lebih cepat dari jadwal, menempuh jarak rata-rata harian sekitar 17 mil.
Dia berlatih bertahun-tahun untuk ekspedisi ini, setelah sebelumnya menyelesaikan ekspedisi 27 hari di puncak es di Greenland dan ikut ultramaraton, termasuk Marathon des Sables melintasi Sahara.
Chandi berharap perjalanannya bisa menginspirasi anak-anak muda, perempuan, dan mereka yang berasal dari latar belakang etnis minoritas.
(mdk/pan)