Penyerang Charlie Hebdo diburu, WNI sebut suasana Paris tegang
Pengamanan ketat, sekolah libur cepat. Kemlu sudah keluarkan travel advice pada WNI agar jauhi keramaian.
Perburuan polisi Prancis terhadap dua pelaku penyerangan kantor Tabloid Charlie Hebdo, masih berlangsung. Keduanya dikabarkan lari ke hutan di pinggir Kota Dammartin-en-Goelle, dekat Bandar Udara Internasional Charless de Gaulle.
Kendati lokasi kejar-kejaran jaraknya jauh, suasana tegang masih tersisa di Ibu Kota Paris. Kepada merdeka.com, mahasiswa Indonesia sedang lanjut S2 di sana mengatakan patroli polisi di pelbagai sudut amat intensif.
Suasana tegang bertambah, dengan adanya kebijakan dan imbauan agar warga tidak banyak ke luar rumah. "Sekarang kondisi di Paris sekarang lebih sepi. Sekolah-sekolah sudah meniadakan kegiatan di luar jam sekolah," ujarnya saat dihubungi, Jumat (9/1).
Mahasiswa pun merasakan dampak dari ketatnya pengamanan polisi. Di kampus-kampus, tas para pelajar harus diperiksa lewat pemeriksa metal ketika melewati pintu masuk.
Sedangkan terkait Kementerian Luar Negeri yang kemarin menerbitkan peringatan perjalanan (travel advice), WNI sudah banyak menerima pesan berantai lewat ponsel maupun surel.
Dikhawatirkan ada sentimen anti-Islam yang meningkat. Apalagi toko Kebab Villefranche-sur-Saon diledakkan, diduga sebagai aksi balasan terhadap para pelaku yang terafiliasi dengan militan muslim Yaman.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Paris merespon dengan mengeluarkan imbauan agar warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Paris dan sekitarnya, untuk tetap waspada. Hal serupa juga dilakukan Konsulat Jenderal (Konjen) Republik Indonesia di Marseille.
"Tapi belum ada imbauan spesifik kepada WNI muslim," ujarnya.
Tercatat hingga tahun lalu, total 1.200 WNI belajar di Negeri Menara Eiffel itu. Tak sedikit mengenakan simbol Islam. "Pelajar WNI yang pakai jilbab memang banyak," kata Dwi Setyowati, salah satu alumnus Prancis yang dihubungi terpisah sebelumnya.
(mdk/ard)