Pengadilan HAM Eropa Putuskan Rusia Bersalah Atas Pembunuhan Mantan Pegawai KGB
Pengadilan HAM Eropa (ECHR) memutuskan Rusia bertanggung jawab atas pembunuhan mantan pegawai KGB, Alexander Litvinenko pada 2006 di London.
Pengadilan HAM Eropa (ECHR) memutuskan Rusia bertanggung jawab atas pembunuhan mantan pegawai KGB, Alexander Litvinenko pada 2006 di London.
Putusan pada Selasa yang disampaikan pengadilan yang berbasis di Strasbourg itu diperkuat temuan penyelidikan panjang Inggris yang menyimpulkan Presiden Rusia, Vladimir Putin mungkin menyetujui operasi intelijen Rusia untuk membunuh Litvinenko.
Putusan ECHR menyatakan pembunuhan tersebut berkaitan dengan Rusia saat menanggapi gugatan janda Litvinenko.
Pengkritik Kremlin tersebut meninggal saat berusia 43 tahun, beberapa minggu setelah meminum the hijau yang dicampur dengan isotop radioaktif yang langka, Polonium 210 di sebuah hotel di London.
Rusia selalu membantah terlibat dalam pembunuhan tersebut dan dengan cepat membantah putusan ECHR.
“ECHR hampir tidak memiliki wewenang atau kapasitas teknologi untuk memiliki informasi tentang masalah tersebut,” kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov kepada wartawan dikutip dari Al Jazeera, Rabu (22/9).
"Masih belum ada hasil dari penyelidikan ini dan membuat klaim seperti itu setidaknya tidak berdasar."
Keputusan ECHR mendukung kesimpulan penyelidikan Inggris tahun 2016 bahwa mantan pengawal KGB Andrei Lugovoy dan seorang Rusia lainnya, Dmitry Kovtun, membunuh Litvinenko.
Kedua pria itu berulang kali membantah terlibat.
"Pengadilan memutuskan, tanpa keraguan, bahwa pembunuhan itu telah dilakukan oleh Lugovoy dan Kovtun," kata putusan ECHR.
"Operasi yang direncanakan dan kompleks yang melibatkan pengadaan racun mematikan yang langka, pengaturan perjalanan untuk pasangan itu, dan upaya berulang dan berkelanjutan untuk memberikan racun menunjukkan Litvinenko telah menjadi target operasi."
Putusan menyatakan, seandainya orang-orang itu melakukan "operasi jahat", Moskow akan memiliki informasi untuk membuktikan teori itu, menambahkan pemerintah Rusia belum memberikan rincian tersebut.
Bernard Smith dari Al Jazeera, melaporkan dari Moskow, mengatakan pasangan itu tidak mungkin diadili mengingat penolakan Kremlin terhadap keputusan ECHR.
(mdk/pan)