Penembakan di Kantor Intelijen Rusia, Seorang Polisi Tewas
Seorang polisi lalu lintas di Rusia tewas setelah insiden penembakan di Kantor Intelijen Rusia.
Satu orang ditembak mati setelah seorang pria tanpa identitas mengeluarkan tembakan di kantor Pelayanan Keamanan Federal (FSB), biro intelijen utama Rusia, di jantung kota Moskow.
Menurut laporan media Rusia, pria tersebut menyerang bagian resepsionis di gedung Lubyanka, markas FSB dan pendahulunya saat era komunis, KGB. Korban adalah seorang anggota polisi lalu lintas. Beberapa anggota FSB lainnya terluka dalam insiden tersebut dan dua dinyatakan kritis, kata seorang pejabat.
Video menayangkan pria bersenjata menyerbu gedung Lubyanka dengan serentetan tembakan dan memecahkan jendela. Satu orang terlihat terkapar di jalan.
Pelaku dilaporkan melarikan diri dan berlindung di dalam gedung sekitar TKP. Pasukan keamanan kemudian menembaknya hingga tewas. Kantor berita Interfax melaporkan, pihak keamanan tengah mengidentifikasi pelaku.
Saat malam tiba, pasukan FSB bersenjata menyisir TKP untuk menemukan pelaku.
Sebelumnya, operasi keamanan besar diluncurkan ketika tembakan keras terjadi di alun-alun dan wilayah sekitarnya. Pasukan khusus Rusia dengan senjata otomatis bergegas ke tempat kejadian. Video menunjukkan mereka berlari di sepanjang trotoar.
"Saya sedang duduk di kafe di seberang gedung FSB ketika kami dengar tembakan. Saya lihat anggota polisi berlindung di belakang mobil. Pegawai meminta kami bergegas keluar melalui pintu belakang," kata Sergei Komlin, dilansir dari The Guardian, Jumat (20/12).
Kementerian Kesehatan menyampaikan lima orang terluka dalam insiden tersebut. Kini korban luka tengah dirawat di rumah sakit. Belum jelas motif dari pelaku, termasuk apakah ia pelaku tunggal atau beraksi di bawah komando.
Penembakan terjadi di hari yang sama dengan acara konferensi pers tahunan Presiden Vladimir Putin di Istana Kremlin, yang disiarkan langsung di seluruh negeri. Insiden tersebut kemungkinan direncanakan bertepatan dengan pidato Putin, kata sumber FSB kepada Reuters.
Vladimir Putin merupakan Kepala FSB sebelum menjadi perdana menteri di bawah Boris Yeltsin dan kemudian menjadi presiden pada tahun 2000. Sebagian besar anggota pemerintah Rusia memiliki latar belakang keamanan atau intelijen. Putin memuji para petugas atas kontribusinya dalam memerangi terorisme dan kejahatan terorganisir.
Lubyanka sebelumnya menjadi sasaran serangan, termasuk pemboman bunuh diri oleh teroris di stasiun metro terdekat.
(mdk/pan)