Pemberontak pro Rusia di timur Ukraina bakal bikin negara baru
Negara baru itu bakal bernama Malorossiya. Pemerintah Ukraina menolak rencana itu dan menyatakan pemberontak cuma menjadi 'boneka' Rusia.
Pemberontak pro Rusia yang merebut wilayah Donetsk di sebelah timur Ukraina menyatakan bakal mendirikan negara baru. Mereka menolak sistem negara federal baru yang ditetapkan pemerintah Ukraina.
Dilansir dari laman Reuters, Kamis (20/7), pemimpin Republik Rakyat Donetsk (DNR) disokong Rusia, Alexander Zakharchenko, hendak membikin negara baru bernama Malorossiya (Rusia Kecil), dengan Ibu Kota Donetsk. Dia mengklaim idenya didukung beberapa perwakilan dari sejumlah wilayah di Ukraina. Namun, wilayah pemberontak lain, Republik Rakyat Luhansk, mengaku tidak pernah tahu soal itu.
"Kami mengajukan permintaan kepada penduduk Ukraina dengan cara damai sebagai jalan keluar ketimbang berperang. Ini penawaran terakhir kami," kata Zakharchenko.
Presiden Ukraina, Petro Poroshenko, langsung menolak ide itu. Dia menyatakan hal itu melanggar perjanjian damai diteken di Minsk dua tahun lalu.
"Alexander Zakharchenko, pemimpin DNR, hanya boneka Rusia yang dipakai buat menyampaikan pesan," kata Poroshenko.
Jerman dan Prancis yang menjadi penengah perdamaian krisi Ukraina juga menolak ide Zakharchenko. Salah satu juru runding Ukraina, Yevhen Marchuk, mengatakan apa yang dilakukan Zakharchenko bakal merusak perjanjian damai, dan jelas terlihat Rusia hendak melakukan sabotase kesepakatan itu. Panglima Militer Ukraina, Viktor Muzhenko, mengatakan warga Ukraina tidak bakal sepakat dengan wilayah bernama Malorossiya.
"Itu khayalan orang sakit," kata Muzhenko.
Juru Bicara Pemerintah Rusia, Dmitry Peskov, menyangkal tudingan Poroshenko. Mereka menyatakan pernyataan Zakharchenko bakal mendirikan negara baru adalah idenya seorang diri.
Malorossiya adalah julukan bagi Ukraina saat wilayah mereka masih di bawah kekuasaan Kekaisaran Rusia. Kini, warga Ukraina menganggap julukan itu sebagai penghinaan. Sebab, mereka sudah menyatakan merdeka dari Negeri Beruang Merah pada 1991.
Meski kedua belah pihak menyatakan berdamai dua tahun lalu, tetapi pertikaian terus terjadi. Pemberontakan di timur Ukraina dilakukan milisi pro Rusia meletup pada 2014. Rusia menolak dituduh mengirim senjata dan pasukan membantu pemberontak. Mereka juga mengklaim masih menaati perjanjian Minsk. Namun, tiga mantan pemimpin pemberontak mengaku sudah berbincang dengan penasihat senior Presiden Rusia, Vladimir Putin, dan memberikan arahan tentang bagaimana mengurus pemerintahan negara baru itu.
(mdk/ary)