Pemberontak Myanmar Ancam Serang Balik Militer Jika Demonstran Terus Dibunuhi
Menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) aparat keamanan sejauh ini sudah membunuh sedikitnya 510 orang sejak kudeta 1 Februari.
Kelompok pemberontak bersenjata Myanmar mengancam akan menyerang balik militer jika mereka tidak menghentikan pembunuhan terhadap demonstran anti-kudeta. Sementara di sekitar perbatasan Thailand membolehkan masuk sekitar belasan warga Myanmar yang melarikan diri untuk menghindari kekerasan dan mendapat perawatan medis.
Dalam pernyataan gabungan kemarin, Pasukan Pembebasan Nasional Ta'ang, Pasukan Aliansi Demokratik Kebangsaan Myanmar dan Pasukan Arakan (AA) mengatakan "jika militer masih terus membunuhi warga maka kami akan bekerja sama dengan demonstran untuk membalas serangan."
Laman Aljazeera melaporkan, Selasa (30/3), menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) aparat keamanan sejauh ini sudah menewaskan sedikitnya 510 orang sejak kudeta 1 Februari. Hari paling banyak jatuhnya korban tewas adalah Sabtu kemarin dengan korban mencapai 141 orang dan itu bertepatan dengan Hari Angkatan Bersenjata.
Salah satu kelompok demonstran, Komite Pemogokan Kebangsaan, dalam surat terbuka Senin lalu menyerukan kelompok pasukan etnis minoritas untuk membantu warga yang mengalami penindasan militer.
Pernyataan gabungan dari kelompok pemberontak bersenjata kemarin menandakan seruan untuk melawan militer kian berkumandang.
Mereka juga mendesak militer agar mau berdialog dengan kelompok demonstran dan mencari solusi untuk mengatasi krisis politik ini.
"Pembunuhan brutal rakyat tak berdosa ini sangat keji," kata Khine Thu Kha, juru bicara kelompok Pasukan Arakan (AA) kepada Reuters dalam pesan suara.
Debbie Stothard dari Federasi Internasional untuk Hak Asasi (FIDH) mengatakan kepada AFP, situasi saat ini bisa memicu perang saudara di Myanmar.
Sekitar puluhan kelompok etnis minoritas pemberontak tersebar di Myanmar sejak negara itu merdeka dari Inggris pada 1948. Mereka menginginkan otonomi wilayah, identitas tenis, dan sumber daya alam.
Selama akhir pekan militer Myanmar melancarkan serangan udara di wilayah timur Negara Bagian Karen dengan menargetkan pemberontak Brigade Kelima Serikat Nasional Karen (KNU). Itu adalah serangan udara pertama yang dilakukan dalam 20 tahun terakhir.
Saat ini diperkirakan sudah 3.000 orang menyeberang perbatasan ke Thailand untuk menyelamatkan diri.
(mdk/pan)