Pasutri AS-Kanada ditawan 5 tahun di Pakistan diperlakukan buruk
Joshua Boyle mengatakan anggota kelompok Haqqani memperkosa istri dan membunuh bayinya.
Pasangan suami istri asal Amerika Serikat dan Kanada, Caitlan Coleman dan Joshua Boyle, akhirnya berhasil dibebaskan dari tawanan kelompok bersenjata Haqqani di Pakistan, merupakan sekutu Taliban dari Afghanistan. Namun, mereka membeberkan perlakuan buruk dilakukan penyandera.
Boyle membeberkan hal itu melalui sebuah catatan pernyataan dibacakan setelah sampai di Bandara Internasional Pearson, Toronto, Kanada, Sabtu (14/10), seperti dilansir dari laman The Guardian. Dia menyatakan kini mereka bakal mencoba menempuh babak baru dalam hidup, bersama istri dan ketiga anaknya. Sebab, dia mengatakan penculik mereka teramat kejam.
"Kelompok Haqqani sangat bodoh dan jahat menculik kami saat sedang berziarah. Mereka juga membunuh anak kami yang masih bayi. Bahkan mereka juga memperkosa istri saya. Hal itu dilakukan oleh seorang penjaga, dibantu kepala penjaga, dan dilakukan di depan komandan mereka," tulis Boyle dalam pernyataannya.
Boyle menyatakan Taliban sebagai organisasi tertinggi sudah mengusut kasus itu tahun lalu dan mengetahui pelakunya. Dia kini menginginkan Taliban menegakkan keadilan.
"Insya Allah, perbuatan jahat itu bakal mengakhiri kelompok Haqqani," ujar Boyle.
Menurut petugas pendamping, kondisi kesehatan salah satu anak Boyle buruk. Bahkan dia harus dipaksa makan oleh tim penyelamat dari Pakistan.
Boyle dan Coleman ditawan hampir lima tahun dan melahirkan tiga anak selama disandera.
Mereka diculik ketika bepergian ke Afghanistan lima tahun lalu. Saat itu Coleman sedang mengandung. Mereka menyatakan saat itu sengaja masuk ke perkampungan di wilayah terpencil, guna membantu penduduk desa terdampak konflik bersenjata. Sebab tidak ada satupun relawan atau lembaga kemanusiaan memberikan bantuan.
Menurut kabar diterima dari orang tua Boyle, anak beserta istri dan cucu mereka berhasil diselamatkan oleh pasukan Pakistan. Sempat terjadi tembak menembak antara keduanya karena serdadu Pakistan menyergap kendaraan penculik. Dia sangat berterima kasih karena pasukan Pakistan berhasil menyelamatkan anak, menantu, serta cucunya.
"Anak saya mengatakan saat itu dia disekap di bagasi mobil. Ketika mobilnya disergap, dia mendengar penculiknya hendak membunuhnya. Namun, mereka keburu tewas ditembak pasukan Pakistan. Anak saya juga terluka terkena serpihan akibat kontak senjata," kata orang tua Boyle seperti dikutip dari The Toronto Star kemarin.
Presiden AS, Donald Trump, menyampaikan terima kasih kepada Pakistan atas usahanya membebaskan pasutri itu. Meski demikian, di balik itu kedua negara masih saling curiga. Sebab, AS menuding Pakistan gagal memerangi kelompok bersenjata bertalian dengan organisasi dianggap sebagai teroris seperti Al Qaidah dan Taliban. Mereka bersembunyi di daerah terpencil dan kerap menculik orang asing buat meminta tebusan.
"Kerjasama pemerintah Pakistan adalah tanda kalau mereka menghormati harapan AS supaya meningkatkan keamanan di negara mereka," kata Trump.
Menteri Luar Negeri Kanada, Chrystia Freeland, meminta supaya media massa memberi ruang bagi privasi pasutri itu. "Joshua, Caitlan, dan ketiga anak serta keluarga besar mereka telah mengalami masa sulit selama lima tahun. Kami siap mendampingi mereka buat pemulihan," kata Freeland.
Meski demikian, belum diketahui kapan pasutri itu bakal dipulangkan. Ibu Boyle, Linda, mengaku sudah sangat ingin bertemu setelah dikabarkan anaknya dibebaskan dari penculik. Dia dijanjikan bakal bertemu dalam beberapa hari.
"Kami sudah menunggu," kata Linda.
Boyle menolak dipulangkan dengan pesawat militer AS dan memilih jet komersial. Boyle sebelumnya pernah menikah dengan adik dari napi terorisme ditahan di Penjara Guantanamo. Namun, keduanya bercerai dan mantan iparnya dipulangkan ke Kanada.
Kelompok Taliban dan Haqqani punya tujuan sama, yakni menumbangkan pemerintahan Afghanistan disokong AS. Namun, keduanya memiliki struktur organisasi dan komando terpisah.
(mdk/ary)