Obama sedih dengar wartawan ditembak mati, minta senjata dibatasi
"Kematian akibat penyalahgunaan senjata di negara kita angkanya lebih besar dibanding terorisme," kata Obama.
Presiden Barack Hussein Obama berduka cita atas penembakan jurnalis stasiun televisi WDBJ7 Alison Parker (24) dan juru kamera Adam Ward (27) saat siaran langsung. Pemimpin Negeri Paman Sam itu mengaku lelah kekerasan akibat senjata api terus terjadi. Dia mendesak Senat tak lagi ragu untuk mengeluarkan revisi undang-undang agar peredaran pistol dibatasi.
"Hati saya hancur setiap kali mendengar insiden penembakan semacam ini," kata Obama saat ditemui wartawan di Gedung Putih, seperti dilansir Huffington Post, Kamis (27/8).
"Kematian orang-orang akibat penyalahgunaan senjata di negara kita angkanya lebih besar dibanding terorisme," imbuhnya.
Obama sudah 14 kali berpidato, mendesak Senat maupun DPR Amerika mengubah sikapnya terkait pembatasan senjata api. Presiden tidak punya wewenang mengamandemen UU yang menyatakan setiap warga AS berhak mempersenjatai dirinya sendiri. Pendukung utama liberalisasi senjata api adalah golongan konservatif dari Partai Republik, oposisi Obama.
Amandemen keempat dalam sejarah AS itu selalu jadi dasar hukum toko-toko bebas menjual pistol ataupun senapan kepada warga sipil. Presiden kulit hitam ini sempat mengaku frustrasi, karena dua kali masa kepemimpinannya tidak sanggup mengubah aturan soal senjata ini.
"Saya hanya bisa berharap di masa mendatang masyarakat AS sendiri yang terus menekan eksekutif dan legislatif untuk membuat perubahan nyata terkait reformasi peredaran senjata," kata Obama.
Sebelumnya diberitakan, penonton televisi AS pada Rabu (26/8) dikejutkan insiden saat siaran langsung wawancara pada pukul 6.54 waktu setempat. Parker dan juru kamera Ward diberondong tujuh peluru ketika meliput potensi wisata daerah.
Parker berteriak lalu gambar mendadak mengarah miring ke lantai, menandakan terjadi sesuatu dengan juru kamera. Semua adegan itu ikut tersiar ke televisi, sebelum kemudian redaksi memotongnya, beralih ke pembawa acara di studio yang terperangah.
Pelaku diketahui bernama Vester Flanagan (41) mantan rekan kerja Parker dan Ward di stasiun tv yang sama. Motif Flanagan diduga kuat kebencian pada korban karena diskriminasi ras. Parker (24) sebelum ditembak mati pernah menyatakan ejekan bernada rasis pada pria kulit hitam ini.
Flanagan bunuh diri di mobil saat dikejar Kepolisian Virgnia selepas penembakan. Dia mengirim catatan bunuh diri setebal 23 lembar menjelaskan motif dan tujuannya melakukan aksi nekat tersebut.
(mdk/ard)