Nasib Suriah dengan atau tanpa Assad
Assad mengancam jika pasukannya kalah perang maka kekacauan akan melanda TImur Tengah.
Sehari sebelum pelaksanaan pembicaraan damai untuk menentukan nasib Suriah di Montreux, Swiss, kemarin, muncul sebuah laporan dari tiga jaksa kejahatan perang internasional yang mengatakan rezim Basyar al-Assad telah membunuh lebih kurang 11 ribu tahanan sejak Maret 2011 hingga Agustus 2013.
Laporan setebal 31 halaman itu berisi data-data dan 55 ribu foto-foto terjadinya penyiksaan dan pembunuhan terhadap para tahanan oleh rezim Assad seperti dilansir Fox News, Rabu (22/1).
Dalam Konferensi Perdamaian di Kota Montreux, Swiss, kemarin Sekretaris Jenderal Koalisi Nasional sekaligus anggota tim negosiasi kelompok oposisi Suriah Badr Jamous mengatakan Presiden Bashar al-Assad harus diseret ke Mahkamah Internasional atas kejahatan perang itu.
"Kami hadir dalam Konvensi Jenewa ini untuk berjuang dalam diplomasi bagi revolusi Suriah dan segenap keinginan rakyat Suriah."
"Kami tidak akan menerima kesepakatan apa pun selain lengsernya Assad dan perubahan rezim," kata Jamous seperti dilansir surat kabar the Guardian, Rabu (22/1).
Sebaliknya, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan jika Abbas digulingkan maka Suriah akan menjadi bandar teroris dari sejumlah negara.
Saat ini, kata dia, Suriah menjadi tempat tujuan para teroris yang datang dari Eropa dan beberapa negara lainnya. Dia mengkhawatirkan jika para teroris pemberontak itu menang di Suriah mereka akan kembali ke Eropa dan membuat kekacauan.
"Saya mendengar ada 800 orang dari Jerman, 600 dari Pranci. Mereka bisa kembali ke Afganistan, Iran, atau Eropa. Ini bahaya nyata bagi kita semua," kata Araghchi dalam wawancara dengan Irish Examiner.
Awal pekan ini dalam wawancara selama 45 menit dengan AFP sebelum pembicaraan damai di Swiss dimulai Assad mengancam jika pasukannya kalah perang maka kekacauan akan melanda Timur Tengah. Dia menyebut semua pihak yang melawannya adalah teroris.
"Konferensi Jenewa harus menghasilkan kesimpulan yang jelas untuk memerangi terorisme di Suriah," kata dia. Salah satu solusi bagi Suriah, kata dia, adalah para pemberontak asing harus keluar dari Suriah.
Assad menambahkan jika pasukannya menang dalam konflik ini maka dia punya kesempatan untuk kembali maju dalam pemilihan umum presiden Juni tahun ini.
"Saya tidak melihat alasan kenapa saya tidak harus maju," kata dia.
"Jika opini publik menginginkan saya maju lagi menjadi kandidat presiden maka saya tidak akan ragu ikut pemilihan umum kedua kalinya. Singkatnya, peluang saya cukup besar," ujar pria berusia 48 tahun itu.
Assad menjadi presiden pada tahun 2000 setelah ayahnya Hafez, yang menjadi penguasa Suriah selama 30 tahun, meninggal. Assad memenangkan referendum dan kembali berkuasa selama tujuh tahun berikutnya pada Juli 2007.(mdk/fas)