Mitos, Teori Konspirasi, dan Hoaks Seputar Virus Corona
Ketika virus corona dan juga kepanikan akibat virus ini terus menyebar ke seluruh dunia, begitu juga dengan kabar hoaks, teori konspirasi, dan misinformasi mengenai penyakit ini. Ini sejumlah mitos yang berkembang terkait virus corona.
Ketika virus corona dan juga kepanikan akibat virus ini terus menyebar ke seluruh dunia, begitu juga dengan kabar hoaks, teori konspirasi, dan misinformasi mengenai penyakit ini.
Terdapat banyak informasi tak akurat terkait hal ini, yang disebut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai "infodemik". Untuk meluruskan berbagai informasi keliru ini, WHO bekerja sama dengan TikTok.
Mitos ini tak hanya beredar di internet tapi juga di banyak media arus utama. Platform media sosial mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan informasi yang kredibel dan menghapus konten yang dapat membingungkan orang.
Sementara itu, sensor dan ketidakpercayaan terhadap pemerintah di beberapa negara telah menciptakan peluang untuk penyebaran misinformasi.
Inilah sejumlah mitos soal virus corona yang tak boleh dipercaya, dikutip dari CNN, Rabu (4/3):
Mitos 1: Virus corona buatan manusia
Realita: Jangan percaya segala hal yang Anda baca di internet.
Ketika wabah virus corona berubah menjadi krisis kesehatan masyarakat di dunia, sebuah teori muncul di internet tentang asal-usul virus: virus itu tidak muncul secara alami, tetapi dikembangkan di laboratorium.
Hoaks ini berasal dari akun media sosial yang tak terverifikasi dan tak didukung bukti kredibel. Namun hoaks ini terus dikembangkan. Salah satu versi menyebutkan laboratorium China secara diam-diam mengembangkan senjata biologis yang kemudian diretas.
Ilmuwan China maupun Barat telah membantah hal ini. Para ahli masih mencoba menemukan sumber virus ini, dan penelitian mengindikasikan virus ini berasal dari kelelawar dan ditransmisikan ke perantara sebelum menular ke manusia. Sama seperti virus yang menyebabkan wabah SARS pada 2003.
Mitos 2: Pengobatan tradisional bisa mengobati virus
Realita: Bawang putih baik untuk kesehatan. Begitu juga air. Dan vitamin C. Tapi belum ada bukti bahwa memakan bawang putih, minum air putih setiap 15 menit, dan konsumsi vitamin C akan melindungi orang dari virus corona. Begitu juga dengan penggunaan minyak esensial.
Beberapa unggahan di media sosial menyarankan orang-orang mengoleskan minyak wijen di badan dan menyemprotkan alkohol atau klorin akan membunuh virus. Informasi itu juga keliru.
Ada beberapa disinfektan kimia, termasuk pemutih, etanol 75 persen, asam perasetat dan kloroform, yang dapat membunuh virus di permukaan. Tetapi jika virus sudah ada di tubuh Anda, mengoleskan zat-zat itu di kulit Anda atau di bawah hidung Anda tidak akan membunuhnya - dan sebenarnya bisa berbahaya. Zat ini pun tak boleh diminum atau ditelan.
Belum ada obat untuk virus ini. Sementara penelitian untuk vaksin sedang dilakukan, vaksin bisa tersedia lebih dari setahun.
Cara terbaik untuk melindungi diri adalah sama seperti cara mencegah penyakit flu saat musim dingin. Jaga jarak setidaknya tiga langkah dari orang yang terinfeksi. Cuci tangan sesering mungkin dengan sabun dan air setidaknya 20 detik.
Tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin dengan telapak tangan atau tisu dan kemudian langsung dibuang setelahnya. Bersihkan dengan disinfektan benda atau permukaan yang kita sentuh.
Jika mengalami gejala yang lebih buruk dari flu, datangi rumah sakit segera.
Mitos 3: Harus pakai masker
Realita: Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengatakan orang sehat tak perlu menggunakan masker.
Dokter bedah umum AS, Dr Jerome Adams memperingatkan, masker wajah sebenarnya dapat meningkatkan risiko infeksi jika tidak dipakai dengan benar. Masker seharusnya dipakai oleh mereka yang terinfeksi dan diduga terinfeksi virus corona untuk melindungi orang lain agar tak tertular.
Orang yang harus menggunakan masker adalah petugas kesehatan dan orang yang merawat seseorang yang terinfeksi virus.
Mitos 4: Panas bisa bunuh virus
Realita: Menurut WHO, pengering tangan tak bisa membunuh virus.
WHO juga mengatakan lampu ultra violet (UV) tak boleh digunakan untuk mensterilkan tangan atau bagian tubuh lainnya karena radiasinya bisa mengiritasi kulit.
Mitos 5: Virus bisa menular lewat surat atau paket kiriman
Realita: Tak usah takut untuk mengecek surat atau paket Anda.
Mendapat surat atau paket dari China tak akan berisiko terjangkit virus, menurut WHO.
Peneliti juga masih mempelajari bagaimana tepatnya virus corona bisa menjangkiti orang, tetapi jika dilihat dari virus corona sebelumnya, Covid-19 tidak bertahan lama pada objek dan permukaan.
Mitos 6: Anak-anak tak bisa tertular virus corona
Realita: Siapa pun dari segala usia bisa tertular Covid-19, meskipun orang yang lebih tua dan mereka yang memiliki kondisi medis sebelumnya tampaknya lebih rentan terhadap infeksi serius.
Sementara sebagian besar kasus yang dikonfirmasi dari virus telah terjadi pada orang dewasa, anak-anak juga telah terinfeksi, menurut CDC.
Mitos 7: Orang yang terinfeksi virus corona akan mati
Realita: Tingkat kematian untuk virus ini sekitar 2 persen, dan para pakar mengatakan jumlah itu diperkirakan akan turun.
Orang yang terinfeksi biasanya akan sakit dengan penyakit saluran pernapasan atas ringan hingga sedang, mirip dengan flu biasa. Gejalanya meliputi pilek, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan demam yang bisa berlangsung selama beberapa hari. Seiring waktu, gejala akan hilang dengan sendirinya.
Penyakit ini bisa berakibat fatal tetapi kasus-kasus itu sangat jarang.
Bagi mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, orang tua dan orang yang sangat muda, ada kemungkinan virus dapat menyebabkan penyakit saluran pernapasan yang lebih rendah dan lebih serius, seperti pneumonia atau bronkitis.