Mengintip pernikahan Yahudi Ortodoks
Sebagai agama tertua Yahudi Ortodoks punya pelbagai tradisi dan ritual yang kini sudah banyak punah.
Sebagai agama tertua Yahudi Ortodoks punya pelbagai tradisi dan ritual yang kini sudah banyak punah dan tidak lagi dilakukan oleh mayoritas sudah terkena budaya sekuler. Salah satunya upacara pernikahan unik dengan aturan ketat komunitas Haredi.
Rebecca Hanna dan Aharon Cruise asal Kota Yerusalem saat itu hendak mengucapkan janji sehidup semati di rumah pertemuan Haredi di wilayah Mea Shearim. Tempat ini salah satu lingkungan tertua Yahudi dan dibangun pada 1874 menjadi tempat keduanya menikah, seperti dilansir surat kabar the Daily Mail, Kamis (20/2).
Rebecca dan Aharon menggelar janji suci mereka dan disaksikan dari dua bagian terpisah antara perempuan dan lelaki. Bagian dari rangkaian ini ada dua, yakni tukar cincin dikenal sebagai erusin atau kiddushin, dan ijab kabul atau nesuin.
Tukar cincin seperti pada umumnya, pengantin lelaki memberikan cincin kawin pada mempelai perempuan. Selama proses tunangan itu sang wanita dilarang berbicara pada semua orang.
Setelah itu keduanya menghabiskan waktu bersama sebelum masuk dalam chuppah, ruangan dibuat dari kain renda. Di sana mereka diberkati dan setelahnya minum anggur di akhir upacara.
Semua tamu laki-laki berpakaian serba hitam serta mengenakan topi tradisional. Para tamu dipisahkan antara pria dan wanita. Kaum hawa diperkenankan menyaksikan jalannya ijab kabul dari balik tirai. Beberapa anggota komunitas bahkan mentaati ajaran menyebutkan perempuan menikah tidak boleh terlihat sama sekali di muka publik.
Ketika upacara berakhir Rebecca kembali ke balik tirai sementara Aharon berpesta bir, menari, dan menyanyi dengan para anggota pria. Malah beberapa bocah lelaki merokok dan tidak satu pun perempuan boleh melarang.
Itu tradisi Yahudi Ortodoks yang masih menjaga beberapa nilai Yudaisme. Dunia mereka jauh dari televisi, film, Internet, dan publikasi sekuler lainnya. Kehidupan mereka hanya studi agama, doa, dan keluarga. Mereka juga memelihara jenggot dan wanita selalu memakai baju panjang, dengan lengan panjang, dan kerah tinggi yang tidak ketat, mengikuti aturan kesopanan dalam agama mereka.
(mdk/din)