Mengenang Shimon Peres, pendukung perdamaian Palestina-Israel
Mengenang Shimon Peres, pendukung perdamaian Palestina-Israel. Dia meninggal hari ini karena stroke dalam usia 93 tahun. Peres pernah meraih penghargaan Nobel Perdamaian pada 1994. Di awal karirnya dia mendukung pembangunan permukiman Yahudi. Pandangan politiknya lalu berubah. Dia mendukung perdamaian dengan Palestina.
Mantan Presiden Israel, Shimon Peres, tutup usia Selasa (27/9) setelah dua pekan sebelumnya terserang stroke. Peres meninggal dalam usia 93 tahun.
Pria yang lahir di Polandia pada 1923 ini merupakan salah satu tokoh yang memperjuangkan perdamaian Israel dan Palestina. Karena upayanya, dia beroleh Nobel Perdamaian pada 1994 lantaran turut menggagas Perjanjian Oslo.
Peres dan keluarganya sempat melarikan diri dari penindasan di Polandia ke Palestina, yang kala itu berada di bawah pendudukan Inggris pada 1934. Kala itu usianya masih 11 tahun.
Pada dekade 1940-an, Peres kemudian bergabung dengan perjuangan Zionis pimpinan Ben Gurion, aktivis yang kemudian menjadi perdana menteri pertama Israel. Sebagai warga Yahudi yang kabur dari penindasan di Eropa, Peres sangat vokal mendukung pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat pada awal kariernya di dunia politik.
Awalnya, Peres dijuluki sebagai 'sang elang' karena vokal pada pembangunan permukiman Yahudi. Namun, pandangan politiknya perlahan berubah. Dia malah berbalik mendukung proses perdamaian dengan Palestina, khususnya lewat kerja sama ekonomi, yang berujung pada perubahan panggilannya sebagai 'sang merpati', yang melambangkan perdamaian.
Meski tidak mau menggelar pertemuan dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pada dekade 1970-an dan 1980-an, seperti yang banyak dilakukan tokoh politik Negeri Bintang Daud kala itu, Peres menyatakan berhenti mendukung pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat.
Peres kemudian menyerukan solusi perdamaian terkait sengketa wilayah antara Palestina-Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Perannya yang paling penting atas perdamaian ini terungkap ketika menggelar negosiasi rahasia yang mempertemukan pejabat Palestina dan Israel di Oslo pada 1993, kala itu dia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Israel.
Pertemuan tersebut kemudian menghasilkan Perjanjian Oslo yang bertujuan untuk merekonsiliasi kedua negara. Dalam perjanjian diketahui, Israel sepakat untuk keluar secara perlahan dan sejumlah wilayah yang diduduki dan mengakui otoritas Palestina di sana.
Peran Peres ini yang menghantarnya memperoleh penghargaan Nobel Perdamaian pada 1994, bersama dengan Perdana Menteri Israel kala itu, Yitzhak Rabin dan pemimpin Palestina, Yasser Arafat.
Karir politik Peres terus meroket kala itu. Dia kemudian menjabat sebagai pelaksana perdana menteri merangkap pelaksana menteri pertahanan selama tujuh bulan hingga pemilu pada 1996. Dia terus mencoba menggunakan momentum pemilu untuk mengedepankan upaya perdamaian Israel-Palestina.
Presiden Bill Clinton, yang menjadi presiden AS kala itu mengatakan Peres sebagai pria jenius berhati besar.
"Saya tidak akan pernah lupa bagaimana bahagianya dia 23 tahun lalu, ketika menandatangani Perjanjian Oslo. Dia berharap bisa membantu banyak dalam hubungan Israel dan Palestina," ujar Clinton dalam sebuah pernyataan bersama dengan sang istri, Hillary Clinton, seperti dikutip dari Skynews, Selasa (28/9).
"Dia adalah seorang jenius berjiwa besar yang menggunakan pemberian ini untuk rekonsiliasi masa depan tanpa konflik, ekonomi, dan kekuatan sosial tanpa amarah dan frustasi dan sebuah kesatuan, sebuah wilayah dan sebuah dunia yang saling berbagi dan menyayangi, tidak saling menyakiti," lanjutnya.
Hal senada juga diungkapkan Presiden AS Barack Obama yang pernah bertemu dengan Peres pada 2014 di Gedung Putih. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sendiri mengakui kebaikan hati Peres.
"Dia adalah pria dengan visi," ucapnya.
Peres meninggal akibat sakit stroke yang dideritanya sejak beberapa bulan lalu. Dia menutup mata untuk selamanya pada usia 93. Damai selalu, Peres.(mdk/pan)