Mengapa AS Sisakan 200 Tentara di Suriah?
Juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders dalam pernyataannya mengatakan, "Kelompok kecil penjaga perdamaian yang terdiri dari 200 orang akan tetap berada di Suriah untuk jangka waktu tertentu,".
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan akan meninggalkan 200 tentara di Suriah setelah penarikan mundur besar-besaran.
Juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders dalam pernyataannya mengatakan, "Kelompok kecil penjaga perdamaian yang terdiri dari 200 orang akan tetap berada di Suriah untuk jangka waktu tertentu," demikian di laporkan kantor berita the ASsociated Press, seperti dilansir laman Newsweek, Jumat (22/2).
Pernyataan Sanders tidak menjelaskan lebih jauh tentang alasan penempatan 200 tentara itu dan Gedung Putih tidak segera menjawab klarifikasi dari Newsweek.
Bulan lalu Trump menyampaikan pengumuman mengejutkan penarikan mundur pasukan AS dari Suriah dengan alasan ISIS sudah dikalahkan. Meski begitu sejumlah operasi militer melawan ISIS masih terus berlangsung. Trump kala itu mengatakan 2.000 pasukan AS di Suriah sudah tidak diperlukan lagi.
Keputusan Trump itu memicu pertentangan di pemerintahan sampai akhirnya Menteri Pertahanan Jim Mattis mengundurkan diri.
Di medan pertempuran penarikan mundur pasukan AS bisa menimbulkan kekosongan yang bisa membuat ISIS kembali bangkit. Selain itu Rusia dan Iran akan kian kuat menancapkan pengaruhnya di Suriah.
Bahkan Senator dari South Carolina Lindsey Graham yang selama ini dikenal sebagai orang dekat Trump di kubu Republik, menyebut keputusan Trump itu adalah yang terbodoh dari yang pernah dia dengar.
Mundurnya pasukan AS dari Suriah akan membuat sekutu AS di sana rentan. Pasukan AS saat ini masih dikerahkan untuk menyokong Pasukan Demokratik Suriah (SDF), kelompok oposisi pemerintah Suriah, untuk melawan sisa-sisa ISIS.
Dalam melawan ISIS, SDF juga dibantu oleh pasukan Unit Perlindungan Rakyat Kurdi.
SDF selama ini terbukti sekutu yang bisa diandalkan AS melawan ISIS. SDF kini menguasai wilayah sebelah utara dan timur Suriah. Namun hubungan mereka selanjutnya dengan pemerintah Suriah di bawah Basyar al-Assad masih belum jelas. Sementara Turki menganggap pasukan Kurdi mengancam wilayah teritorial mereka.
Amerika Serikat dan Turki sudah membahas soal zona aman di Suriah untuk menghindari bentrokan senjata antara mereka dengan pasukan AS yang mendukung milisi Kurdi.
Baca juga:
Militan ISIS asal Indonesia Tewas Diterjang Peluru Tank di Suriah
Lindungi Israel, Trump Sisakan Sebagian Tentara AS di Suriah
ISIS Disebut akan Bangkit Kembali di Suriah dan Sinai
Utusan PBB di Suriah Ancam akan Mengebom Bandara Israel
Amerika Kehabisan Strategi di Suriah
Militer Israel Kembali Serang Target Iran di Suriah