LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. DUNIA

Menduga ISIS sejak lama

Teori itu didasarkan pada konflik membelit negara-negara Timur Tengah pada akhir 1980-an.

2017-05-19 08:03:00
Ekstremis ISIS
Advertisement

"Nanti akan muncul kelompok mengatasnamakan Islam yang akan menganiaya orang-orang yang berbeda agama atas nama Islam, dengan tujuan mendirikan Negara Islam. Mereka akan merekrut muda-mudi dan mencuci otaknya, lalu mengubah mereka menjadi pembunuh atas nama agama,".

Itu adalah ucapan terlontar dari lisan Farag Foda. Dia memaparkan ideologi teror itu akan muncul dalam sebuah wawancara di stasiun televisi Tunisia awal 1990-an.

Dia merupakan peneliti dan pemikir Mesir. Bingkai kacamatanya cukup besar. Dengan mengenakan setelan jas abu-abu dipadu kemeja putih dan dasi bercorak dia perlahan mengutarakan isi kepalanya.

Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) masih menjadi ancaman di Timur Tengah dan dunia. Namun sejatinya bahaya itu bukan berada di organisasi, tetapi pada ideologi.

Hal itu terbukti dengan gencarnya penyebaran ideologi bahkan hingga ke Indonesia. Padahal sebenarnya Farag sudah mewanti hal itu akan menjadi kenyataan sejak 25 tahun lalu, seperti dilansir dari laman Al Arabiya, Kamis (18/5).

Di akhir 1980-an, Timur Tengah terbelah-belah. Ada konflik teluk antara Irak dan Kuwait. Intifada pejuang Palestina melawan zionis Israel. Kemudian perang saudara di Libanon. Semua sibuk mengurus negara masing-masing.

Mesir dan dunia Arab saat itu dihadapkan kepada kenyataan kalau mereka mudah sekali berkonflik. Pemicunya mulai dari uang, budaya, etnis, hingga masalah agama. Kemudian, Farag memetakan ada dua jenis umum kemelut dia bisa kenali.

Pertama adalah ideologi model Iran. Menurut teorinya, akan ada sekelompok pemuda bangkit dari kalangan masyarakat bawah dan memberontak terhadap apa yang mereka sebut pemerintahan zalim. Mereka bakal menggunakan alasan rezim membikin ekonomi mereka hancur, lantas menggerakkan rakyat buat unjuk rasa dan merebut kekuasaan.

Kemudian berlanjut ke teori berdarah ala Libanon. Farag menyatakan hal itu hanya akan muncul dan bisa berjalan di negara dengan sejumlah kelompok minoritas. Gesekan sektarian mudah sekali dipakai buat menggerakkan orang-orang saling bertengkar, hingga membuat perang saudara. Mereka pantas disebut teroris karena kita juga harus mempertahankan Islam.

"Keliru kalau menyebut mereka Islamis karena hal itu justru bertentangan dengan Islam yang tidak mengajarkan membunuh dan meneror," kata Farag.

Meski begitu, lanjut Farag, dalam kondisi seperti itu kaum muda yang mudah dipengaruhi akan menolak kewarganegaraan. Mereka akan terus-menerus didoktrin kalau pemerintah yang ada bertentangan dengan syariat, dan di dunia hanya ada Negara Islam. Mirip dengan apa yang dilakukan ISIS.

Sayang, pemikiran Farag itu seolah terpendam. Pergi bersama dengannya karena dibunuh oleh anggota al-Gama'a al-Islamiyya pada Juni 1992.

Advertisement

Baca juga:
Mantan Menhan: ISIS 'minta maaf' usai serbu perbatasan Israel
TV Arab bakal tayangkan serial drama tentang ISIS selama Ramadan
Meratapi kerusakan parah kota kuno Hatra setelah diduduki ISIS
Bukti kongkalikong, ISIS minta maaf serang tentara Israel
Perang ISIS vs tentara koalisi AS jadi permainan seru di Spanyol
Gempur Suriah dari udara di Palmyra, Israel mau lindungi ISIS?
Pemandangan mengerikan Kota Mosul
Baghdadi kabur, tinggalkan pasukannya mati di Mosul

(mdk/ary)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.