Mengupas satu per satu personel yang menjaga ketat pertemuan Trump dan Kim Jong Un
Menjelang pertemuan, Singapura dan beberapa personel keamanan dari Korea Utara dan AS turut mempersiapkan keamanan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un akan melakukan pertemuan di Singapura pada 12 Juni 2018. Pertemuan ini hampir tidak akan terjadi karena salah satu pihak merasa ragu.
Menjelang pertemuan, Singapura dan beberapa personel keamanan dari Korea Utara dan AS turut mempersiapkan keamanan demi kelancaran pertemuan tersebut. Berikut personel-personel yang menjaga ketat jelang pertemuan Trump dan Kim Jong un:
Personel Pasukan Gurkha sigap menjaga pertemuan pemipin AS dan Korut
Pasukan Gurkha diyakini sebagai prajurit paling ganas dan ditakuti di dunia. Saat Singapura merasa terancam dengan keberadaan militan di negaranya, maka saat itulah pasukan asal Nepal itu dikerahkan dibanding aparatnya sendiri.
Dengan senapan serbu dan senjata tradisional 'khukris' atau pisau unik yang menjadi ikon nomor satu mereka, Pasukan Gurkha bakal menyebar untuk memberikan keamanan kelas dunia. Saat pertemuan Trump dan Jong un, Pasukan Gurkha akan mengamankan tempat pertemuan, jalan, hingga hotel tempat para pemimpin dan delegasi menginap.
Korea Utara ganti pejabat tinggi militer jelang pertemuan dengan AS
Tentara Rakyat Korea (KPA) atau militer Korea Utara berganti formasi jelang pertemuan dengan AS di Singapura. Menurut media Korea Utara, tiga perwira tinggi militer yang diganti, yaitu Kim Su Gil sebagai Biro Umum urusan Politik (GPB) menggantikan Kim Jong Gak, Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Ri Myong Su juga digantikan wakilnya, Ri Yong Gil.
Kemudian Menteri Pertahanan Pak Yong Sik digantikan No Kwang Chol, yang sebelumnya menjabat wakil menteri pertahanan. Personel militer akan selalu berada di sekitar Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam acara-acara resmi, termasuk dalam pertemuan dengan Trump nanti.
Pengamanan udara jelang pertemuan dijaga ketat
Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) dan Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) memberitahukan bahwa wilayah udara Singapura akan dibatasi sementara waktu saat pertemuan terjadi. Nantinya, beberapa landasan pacu di Bandara Changi akan dibatasi.
"Wilayah udara Singapura akan dibatasi untuk sementara waktu, tepatnya pada 11, 12, dan 13 Juni. Hal ini dilakukan karena Singapura akan menjadi tuan rumah pertemuan Presiden Trump dan Kim," demikian isi surat pemberitahuan.
"Semua pesawat yang tiba di Bandara Changi akan diminta untuk mengurangi kecepatan dan akan dihadapkan pada beberapa batasan penggunaan landasan pacu untuk alasan keamanan nasional," tambah pernyataan itu.
(mdk/mtf)