Mahathir: Terlalu demokratis hambat kemajuan negara
Jangan hanya memikirkan kebebasan, menurut Mahathir, rakyat mesti mengerti tanggung jawab.
Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menyatakan situasi terlalu demokratis menghambat kemajuan sebuah negara. Dia menambahkan demokrasi tidak mampu membawa kebaikan jika rakyat hanya memikirkan kebebasan tanpa mengerti tanggung jawab.
"Hal itu hanya akan membawa ketidakstabilan dan ketidakstabilan membuat pembangunan tertunda. Rakyat tidak mendapatkan hak dan kebebasan seperti yang dijanjikan dalam sebuah demokrasi," kata Mahathir saat memberikan kuliah umum di Universitas Santo Thomas, Ibu Kota Manila, Filipina, seperti dilansir situs the Malaysian Insider, Senin (11/6).
Mahathir merupakan perdana menteri yang berkuasa selama 22 tahun sebelum akhirnya mengundurkan diri pada 2003. Dia diundang ke kampus itu untuk menerima gelar profesor kehormatan. Universitas Santo Thomas sudah biasa memberikan predikat semacam itu kepada tokoh-tokoh luar negeri yang berjasa di bidang keahlian mereka, termasuk peraih Nobel Kimia dan seorang pastor dari Vatikan.
Dia mencontohkan satu negara yang tidak maju-maju lantaran menerapkan demokrasi berlebihan. "Tak lama lagi akan ada pemerintahan terpilih setelah ada demonstrasi dan menuding pemerintah sekarang melakukan malpraktek politik," ujarnya. Alhasil, pemerintah harus menghadapi protes-protes itu sehingga tugas pemerintah dan pembangunan terganggu.
Mahathir mengakui Malaysia bukan negara demokrasi liberal, namun itu memudahkan mereka berganti pemerintahan. "tidak ada revolusi, perang saudara, musim semi Arab, dan sebagainya. Pemerintah bisa diturunkan atau dipilih kembali sesuai keinginan rakyat, Mahathir menambahkan.
Dia menegaskan sebuah pemerintahan tidak boleh korup dan memerluka visi membangun negara. "Pemimpin bagus sebaiknya gagasannya buat menciptakan kesejahteraan." (mdk/fas)