Maalula dan hapusnya tudingan perang Sunni-Syiah
Kota Maalula menjadi simbol kemenangan Assad atas ekstremis Islam.
Fadi Mayal melayangkan pikiran di tahun lalu saat kota tercintanya Maalula di Suriah mulai dimasuki gerombolan pemberontak yang hendak menggulingkan Presiden Suriah Basyar al-Assad. Suasana langsung kacau. Dia salah satu orang yang dipaksa mengucapkan dua kalimat syahadat oleh ekstremis muslim. "Namun saya tidak mau. Yesus masih melindungi saya," ujarnya.
Mayal ingat, rumahnya menjadi sasaran para pemberontak lantaran dia dengan bangga memajang foto sang presiden di pintu kediamannya. Kontraktor bangunan 42 tahun itu memang mengagumi Assad. Menurut dia Assad tipe pemimpin yang menghormati hak asasi paling mendasar bagi setiap manusia yakni memilih keyakinan sesuai keinginan. Sejak zaman bapaknya Assad berkuasa hingga sebelum perang sipil berkecamuk, Maalula tak pernah tersentuh kekerasan.
Surat kabar Irish Times melansir (17/4), kurang dari empat hari lagi umat Kristiani sejagat bakal merayakan Paskah namun hal itu hanya bayangan di Maalula. Tentara Assad dan pasukan Hizbullah masih berjaga-jaga di setiap tempat di Maalula lantaran beberapa pemberontak masih ada. Namun basis utama mereka yakni Hotel Al Safir sudah berhasil diratakan dengan tanah oleh militer Suriah.
Sesekali terdengar rentetan tembakan menjelang senja. Ledakan dan bau mesiu masih berbekas meski sebagian besar hilang dihantam angin perbukitan Maalula. Aksen Arab-Libanon dan Suriah membaur dan Aramaik tak lagi jadi bahasa utama. Walau desingan peluru berbunyi menakutkan namun sejumlah tentara masih bisa leyeh-leyeh di bawah pohon dan merokok lewat pipa, bahkan membuka akses Internet lewat ponsel mereka. Tak ada lagi rasa was-was sebab perang di Maalula nampaknya memang sudah dimenangkan Assad dan sekutunya.
Salah satu bergabung dengan prajurit Assad yakni Ahmad dulunya bekerja menjadi perawat di Kota Aleppo. Ahmad tengah bersiap salat maghrib sebelum akhirnya bersedia diajak bincang-bincang. "Saya muslim," katanya tersenyum pada responden dari situs hurriyetdailynews.com.
Dia mengatakan seperti itu lantaran melihat jurnalis juga tengah memperhatikan dua prajurit memakai ikat kepala bertuliskan 'Martir Hussein', merujuk pada Imam Hussein yang menandakan mereka berkeyakinan Syiah. Bagi Ahmad muslim adalah muslim, tidak peduli alirannya.
Ahmad menegaskan, konflik Suriah bukan perang Syiah-Sunni namun lebih pada mempertahankan tradisi dari invasi barat. Ucapan Ahmad memang bukan isapan jempol. Tentara lain banyak yang tidak menggunakan ikatan kepala itu.
Sebagai muslim dan perawat dia dituntut untuk tidak membeda-bedakan setiap manusia. Baginya perang ini bukan hanya memerangi barat, namun juga membela harga diri sebagai seorang Suriah.