Lobi Yahudi atas nama toleransi
Lebih dari 1.700 orang dari pelbagai negara meneken petisi menuntut penghargaan buat Presiden Yudhoyono dibatalkan.
Protes dan kecaman telah bergaung, namun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bergeming. Sejauh ini, lewat juru bicaranya, Julian Aldrin Pasha, Yudhoyono menyatakan tetap akan terbang ke Kota New York, Amerika Serikat, buat menerima penghargaan dari Rabbi Arthur Schneier, pendiri sekaligus Presiden The Appeal of Conscience Foundation.
Penghargaan tahunan ini diberikan kepada kepala negara dianggap berjasa memelihara toleransi dan mengatasi kekerasan beragama di negara masing-masing. Agenda ini sudah berlangsung sejak 1997, namun bisa berjalan rutin di awal milenium kedua. Upacara pemberian penghargaan tahunan bernama World Statesman Award itu akan berlangsung Kamis pekan depan.
Banyak pihak di dalam dan luar negeri menuding penghargaan juga pernah diterima Kanselir Angela Merkel dan mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy itu tidak pantas disematkan buat Yudhoyono. Dia dianggap berlawanan dengan prinsip moralitas dan toleransi antara umat beragama dan berkeyakinan diperjuangkan oleh Rabbi Schneier.
Rabbi Schneier mendirikan yayasan ini pada 1965. Dia merupakan pemimpin spiritual Sinagoge Park East di Kota New York, Amerika Serikat. Korban selamat dalam peristiwa Holocaust ini dikenal berjasa menyebarluaskan paham kebebasan beragama, hak asasi, dan toleransi dan memiliki perhatian khusus terhadap China, Rusia, Eropa Tengah, dan Balkan.
Dia dilahirkan di Ibu Kota Wina, Austria, 83 tahun lalu. Dia mengalami penjajahan Nazi di Budapest (Hungaria) selama Perang Dunia Kedua dan akhirnya pindah ke Amerika Serikat pada 1947.
Selama dua periode kepemimpinannya, kaum minoritas, seperti Ahmadiyah, Syiah, dan Nasrani menjadi korban keganasan kelompok-kelompok Islam garis keras, seperti dilansir majalah Tablet kemarin.
Majalah Internet khusus membahas isu-isu Yahudi dan Zionisme ini mencatat serangkaian kekerasan atas nama agama tidak bisa dicegah oleh rezim Yudhoyono. Sebut saja pembakaran sekaligus pengusiran jamaah Syiah di Kabupaten sampang, Madura, dan Lombok, pembunuhan dan perusakan masjid Ahmadiyah, seperti kasus Cikeusik, Pandeglang (Jawa Barat), serta penutupan paksa gereja di Sumatera Utara, Bekas, dan Bogor.
Organisasi pemantau hak asasi internasional Human Rights Watch telah melansir lusinan laporan dan siaran pers mendesak pemerintahan Yudhoyono memerangi intoleransi beragama. Surat kabar The New York Times tahun lalu mempublikasikan dua opini menyoroti kian tidak harmonisnya kehidupan antar umat berkeyakinan di Indonesia.
Alhasil, penghargaan buat Yudhoyono menimbulkan kebingungan sekaligus kegusaran. "Penghargaan itu berada di sebagian kecil kelompok radikal ingin memurnikan Indonesia dari apa yang mereka sebut klenik dan kekafiran," kata seorang pastor tersohor.
Massa gabungan dari kelompok Kristen, Syiah, Ahmadiyah, dan pegiat hak asasi saat berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar Amerika di Jakarta menyebut penghargaan buat Yudhoyono itu sebagai pembenaran terhadap tindakan diskriminatif atas kelompok minoritas.
Petisi telah diteken lebih dari 1.700 orang asal Australia, Amerika, Indonesia, Belanda, dan negara-negara lain menuntut Rabbi Schneier membatalkan hadiah itu. Penghargaan itu dikhawatirkan kian memperkuat gelombang intoleransi di tanah air.
"Akan menimbulkan kesulitan memilih orang tidak pantas buat memperoleh penghargaan dari sebuah organisasi toleransi beragama," ujar John Sifton, Direktur HRW untuk Asia.
Rabbi Schneier tetap pada pendiriannya. Dia melihat Yudhoyono sebagai tokoh Islam moderat dari negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar sejagat.
Meski belum berniat membina hubungan diplomatik, boleh jadi moderat dalam arti Yudhoyono tidak pernah mengutuk dan menghina Israel seperti dilakoni Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad di panggung-panggung internasional, seperti dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.