Lima bos ini rela potong gaji demi kesejahteraan karyawan
Para CEO dari Jepang hingga AS ini lebih bahagia pegawai naik gaji. Patut ditiru!
Jika Anda sedang memimpikan kenaikan gaji, mungkin Anda akan iri dengan karyawan di beberapa perusahaan ini. Bos dari perusahaan di dunia ini rela memangkas gaji yang didapat demi kenaikan gaji para karyawannya.
Kelakuan para bos ini tentu di luar kebiasaan. Di Amerika Serikat, muncul kesenjangan gaji yang sangat kentara antara atasan dan bawahan. Riset dari Standard & Poor's menunjukkan level presdir dibayar 354 kali lipat di atas karyawan paling junior.
Rata-rata bayaran seorang dirut perusahaan menengah mencapai USD 1 juta (setara Rp 13 miliar) per tahun. Sementara para bos ini merasa mereka bertanggung jawab terhadap kesejahteraan karyawannya.
"Pemotongan gajinya tersebut dilakukan untuk menghindari perampingan karyawan dan memotong gaji mereka ketika keuntungan perusahaan turun," tulis salah satu media Jepang dalam menggambarkan sosok seorang bos perusahaan maskapai terkemuka di sana.
Para bos baik hati ini memahami betul apa yang diinginkan para karyawannya. Bagi mereka, ketika karyawan terpenuhi haknya, maka kewajiban mereka untuk perusahaan pasti akan terpenuhi juga.
Penasaran dengan para bos yang sangat dicintai karyawannya ini? Berikut tim merdeka.com sajikan lima bos yang rela memotong gaji mereka demi para pekerjanya, seperti dilansir dari the Guardian, Emirates247, dan Shanghaiist.
Selamat membaca!
Haruka Nishimatsu
Haruka Nishimatsu merupakan Direktur Utama Japan Airlines, maskapai penerbangan terkenal di Jepang. Sebagai pemimpin perusahaan terkenal, dia salah satu yang memilki prinsip cermat dalam menjalankan perusahaan yang dipimpinnya.
Namun, Haruka tidak pernah bertindak seperti bos. Dia menempatkan dirinya sebagai karyawan biasa.
Alih-alih memakai mobil super mewah, Haruka lebih memiliki berangkat kerja menggunakan kendaraan umum seperti bus.
Ia lebih memilih menggunakan baju dengan merek yang sama seperti yang digunakan pegawainya. Dia juga mengumpulkan gajinya yang angkanya lumayan besar, namun tetap di bawah Direktur Utama lainnya.
"Jika para manajer berada di atas awan dengan kerja hanya memerintah, maka bawahannya tak pernah berpikir, hanya menunggu perintah saja. Sasya tidak mau karyawan saya seperti itu," kata Haruka.
Haruka mencegah pengurangan karyawan atau memotong gaji mereka dengan mengumpulkan gajinya yang bisa digunakan sewaktu-waktu saat keuntungan perusahaan turun.
Satoru Iwata
Siapa tidak tahu perusahaan produsen mainan Nintendo yang terkenal? Bos perusahaan ini, Satoru Iwata mengumumkan akan memotong gajinya ketika pembukuan perusahaan mengatakan keuntungan mereka menurun drastis.
Selama lima bulan ke depan, Satoru menerima gaji dengan jumlah setengah lebih sedikit dari gaji biasanya. Tak hanya dia, anggota dewan Nintendo juga akan melakukan pemotongan gaji sebesar 20 hingga 30 persen.
Nintendo rupanya kalah saing dengan Wii dan Xbox dengan hanya memperoleh keuntungan 8,1 persen selama sembilan bulan terakhir selama 2013.
Lord Simon Wolfson
Pemilik perusahaan ritel Inggris, Lord Simon Wolfson mengatakan dirinya mengerti betapa sulitnya para karyawan di perusahaannya hidup di tengah upah ritel yang tidak besar.
"Saya tidak bisa menjanjikan kita akan mengubah dunia dalam waktu semalam. Tanggung jawab utama saya yaitu untuk memastikan perusahaan tetap kuat secara finansial, dan bekerja secara kompetitif," katanya.
Dia mengatakan, dirinya akan meningkatkan upah karyawannya sebanyak lima persen pada Oktober 2015.
Peningkatan penjualan perusahaan dan kinerja para pegawai harus dibarengi dorongan yang kuat, salah satunya dengan kenaikan upah mereka.
"Jika kurang, saya akan merelakan gaji serta bonus saya untuk mereka," katanya.
Mark Wilson
Mark Wilson merupakan Direktur Eksekutif perusahaan Aviva yang bergerak di bidang asuransi. Perusahaan menyetujui usulnya untuk memangkas gajinya menjadi Rp 18 juta per bulan. Bayaran ini jelas turun drastis dibanding gaji awalnya yang mencapai Rp 55 miliar per bulan.
Hal itu dia lakukan untuk mencegah adanya kerugian dari perusahaannya. Mark mengatakan uang yang jadi haknya, sebaiknya disebar menjadi insentif bagi karyawan.
"Ini merupakan rencana jangka panjang yang dilakukan para petinggi perusahaan," kata dewan komite Aviva, Patricia Cross.
Dan price
Muda, ganteng, baik hati pada karyawan. Inilah bos idaman yang sedang jadi pembicaraan di seluruh dunia.
Presiden Direktur Gravity Payments, Dan Price, asal Kota Seattle, Amerika Serikat, rela memotong 93 persen gajinya demi menambah kesejahteraan karyawan.
Price, memberi kejutan kepada lebih dari 100 pegawainya awal pekan ini, ketika dia mengumumkan siap memotong pendapatannya dari USD 1 juta (sekitar Rp 13 miliar) per tahun, menjadi tinggal USD 70 ribu atau sekitar Rp 905 juta.
Jatah bayarannya itu akan direalokasi untuk kebutuhan perusahaannya dan kesejahteraan pegawai. Ini masih ditambah realokasi 80 persen keuntungan perusahaan untuk karyawan.
Gara-gara kebijakan bosnya itu, beberapa pegawai mengaku dapat kenaikan gaji hingga dua kali lipat. Satu pegawai, seorang ibu muda 21 tahun, langsung berencana beli rumah.
"Saya tidak peduli tentang uang, namun lebih kepada kesejahteraan para pegawai saya. Ketika saya memutuskan memotong pendapatan untuk gaji mereka, itu merupakan fenomena yang luar biasa," ungkap Price, seperti dilansir situs emirates247, (16/4).
Price, yang masih melajang sampai sekarang, mengaku trenyuh mendengar ada karyawan harus pintar-pintar menabung demi menutupi kebutuhan sehari-hari. Gaji USD 40 ribu per tahun di AS sangat sulit untuk hidup layak.
"Mengetahui ada yang hidup seperti itu menggerogoti saya dari dalam," kata Price.
Price yang memulai usahanya sejak masih kuliah ini, punya alasan tersendiri mengapa bersedia potong gaji demi menambah remunerasi karyawan. Dia ingin agar para pekerja bisa menikmati jatah libur mereka setelah satu tahun bekerja.
"Menurut saya itu hal yang sepatutnya mereka dapatkan, dan itu membebaskan mereka untuk mencari gaya kerjanya sendiri," ungkapnya.
Bennet (28 tahun) salah satu anak buah Price yang sudah bekerja di perusahaan itu sejak lulus kuliah, bersyukur dengan langkah sang bos. Selama ini dia dibayar USD 43 ribu (setara Rp 55,8 juta) per tahun.
Setelah Price memotong gajinya, gaji Bennet bertambah drastis USD 10 ribu (setara Rp 130 juta) per bulan, menjadi USD 53 ribu.
(mdk/ard)