Lamaran Ditolak, Pengikut ISIS di Irak Bom Rumah Bibi Sendiri
Lamaran ditolak, bom bertindak. Seorang pengikut ISIS tegas mengebom rumah bibinya sendiri karena lamarannya untuk menikahi putri bibinya atau sepupunya sendiri ditolak berkali-kali.
Seorang anggota ISIS di Irak meledakkan rumah bibinya yang berlokasi di Baghdad setelah lamarannya untuk menikahi putri bibinya itu ditolak. Alasan penolakan lamaran itu karena pria ISIS ini dinilai kurang berpendidikan, seperti dilaporkan Alsumaria News.
Menurut Alsumaria, yang mengutip laporan dari Dewan Kejaksaan Agung Irak, pria tersebut melamar sepupunya beberapa kali tapi lamarannya selalu ditolak karena dia tidak memiliki gelar akademik apapun, sementara perempuan yang dilamar itu lulusan S2.
Pria itu lalu memasang alat peledak di rumah bibinya dan meledakkanya sehari kemudian pada pukul 12.00 siang ketika bibi, putrinya, dan seorang anak laki-lakinya berada di dalam rumah.
Ledakan terjadi ketika pria itu memencet nomor ponsel yang dihubungkan dengan bom tersebut, menewaskan sepupu laki-laki pelaku saat dia bersiap pergi latihan sepakbola.
Dikutip dari Al Arabiya, ibu dan putrinya tidak mengalami luka akibat ledakan tersebut.
Pelaku ditangkap dan dia mengaku memasang dan meledakkan bom tersebut, menurut laporan Dewan Kejaksaan Agung, dan laporan itu juga menyebutkan berdasarkan laporan intelijen, pria itu pengikut "kelompok teroris ISIS."
"Berdasarkan (bukti) terhadap tersangka dan pengakuan detailnya (atas kejahatan tersebut), buktinya cukup untuk menghukumnya dan menjatuhkan hukuman mati," jelas dewan tersebut.
Baca juga:
Kepala BNPT: 2.157 WNI Gabung ISIS, Ada yang Meninggal, Ditahan dan Kembali ke RI
Densus 88 Tangkap Tiga Orang Terduga Teroris Terlibat ISIS
ISIS Umumkan Pemimpin Baru, Siapa Dia Sebenarnya?
Sidang Munarman Memanas, JPU & Kuasa Hukum Debat soal Maklumat FPI Tentang ISIS
Densus 88 Tangkap Terduga Teroris di Sejumlah Lokasi di Jateng, Ini 3 Faktanya
Pejabat Bungkam dan Tutup Mata Saat Ujaran Kebencian Kian Mencengkeram India
AS Tawarkan Hadiah Rp143 Miliar untuk Informasi Pemimpin ISIS di Afghanistan