Label identitas tertukar, dokter di Kenya salah bedah otak pasien
Dokter ahli bedah saraf Kenya beserta tim medisnya melakukan operasi otak terhadap pasien penderita darah beku pekan lalu. Namun, terjadi kesalahan fatal dalam proses operasi tersebut. Mereka melakukan operasi terhadap pasien yang salah.
Dokter ahli bedah saraf Kenya beserta tim medisnya melakukan operasi otak terhadap pasien penderita darah beku pekan lalu. Namun, terjadi kesalahan fatal dalam proses operasi tersebut. Mereka melakukan operasi terhadap pasien yang salah.
Kesalahan tersebut bermula dari tertukarnya label identitas dari dua pasien berbeda. Pasien yang pertama membutuhkan operasi otak untuk mengeluarkan gumpalan darah beku di dalamnya. Sementara pasien satunya membutuhkan perawatan akibat pembengkakan otak.
"Pasien tersebut disiapkan dalam ruang operasi untuk ditangani dengan label nama pada gaun sebagai identitas. Dokter bedah yang bertanggung jawab tidak berkomunikasi dengan pasien sebelum operasi dan hanya meneruskan informasi pada tabel pasien," kata seorang sumber yang tidak menyebutkan namanya dikutip dari laman Straits Times, Senin (5/3).
Para staf yang menjalankan operasi besar tersebut baru menyadari adanya kesalahan setelah berjam-jam tidak menemukan gumpalan darah yang seharusnya ada pada pasien selama proses pembedahan.
Setelah berkonsultasi dengan ahli bedah saraf senior, dokter dan tim medisnya disarankan untuk berhenti sehingga mereka pun tidak meneruskan proses pembedahan.
Surat kabar Daily Nation melaporkan bahwa secara 'ajaib', pasien yang menjadi korban salah operasi berada dalam kondisi baik saat ini. Sementara pasien yang betul-betul membutuhkan operasi otak malah menunjukkan tanda-tanda kepulihan signifikan.
Meski demikian, masyarakat tetap menyuarakan kekhawatiran terhadap kinerja para ahli medis di rumah sakit tersebut. Banyak yang mendesak agar anggota dewan rumah sakit untuk mengundurkan diri untuk bertanggung jawab atas kesalahan ini.
Pejabat Rumah Sakit Nasional Kenyatta yang terletak di Nairobi itu menyatakan permintaan maaf atas kesalahan yang dilakukan para stafnya. Sementara itu, para staf yang terlibat dalam operasi itu sudah diskors untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka.
"Empat staf medis yang mengoperasi pasien yang salah telah diskors. Mereka termasuk ahli bedah saraf, dua perawat, dan ahli anestesi," ungkap CEO RS, Koros Tare.
Selain itu, Sekretaris Kabinet Medis Kenya, Sicily Kariuki, memerintahkan agar CEO dan direktur layanan klinis rumah sakit tersebut menjalani cuti wajib sambil menunggu proses penyelidikan dilakukan.
Baca juga:
Tabrakan maut bus dan truk di Kenya tewaskan 30 orang
Mencekam, bentrokan antar massa dan polisi pecah saat sambut oposisi Kenya
Mengenal Busaa, bir tradisional Kenya
Kenya gelar pilpres ulang tapi diboikot oposisi
Aksi catwalk para model bertubuh gemuk di Kenya