Kurangnya perhatian pemerintah, anak-anak Suriah rawan bunuh diri
Anak-anak korban perang ini membutuhkan tempat perlindungan, makanan dan juga obat-obatan.
Para dokter dunia mengatakan, di Madaya, Suriah, sedikitnya enam remaja dan lebih dari tujuh orang dewasa membunuh diri mereka sendiri karena masalah psikologi. Disebutkan, mereka mengalami tekanan jiwa akibat tempat tinggal mereka sangat buruk.
Madaya merupakan wilayah yang terus diserang Hizbullah sejak Juli 2015 silam. Wilayah ini jauhnya sekitar 40 kilometer dari Ibu Kota Damaskus.
Pada Januari lalu, sedikitnya 65 orang tewas akibat kelaparan dan gizi buruk. Pasalnya, sejak serangan terjadi, para warga hanya bisa makan belalang dan tumbuhan liar untuk bertahan hidup.
Ratusan anak-anak Madaya kini berhadapan dengan penyakit kejiwaan, seperti depresi dan paranoid yang menyebabkan kondisi mereka semakin hari semakin menurun.
Dilansir dari The Independent, Kamis (8/9), tak hanya masalah kejiwaan, para warga Madaya dilaporkan banyak yang mengidap meningitis serius. Walaupun demikian, di wilayah itu tidak ada dokter ahli penyakit kejiwaan, obat-obatan dan makanan selama empat bulan terakhir.
Seorang guru lokal, Rula, mengatakan kepada organisasi Save the Childern efek berkepanjangan dari pertempuran ini adalah kejiwaan anak-anak.
"Ketika kami melakukan berbagai aktivitas seperti menyanyi dengan mereka, tidak semuanya melakukan hal yang sama. Mereka tidak tertawa seperti anak-anak normal lainnya," ujar Rula.
"Mereka menggambar tidak seperti anak lainnya, yang mereka gambar adalah pertempuran, atau tank, atau sisa-sisa makanan," sambung dia sambil berkaca-kaca.
Rula mengatakan yang dibutuhkan anak-anak ini adalah pertolongan.
"Kami tidak butuh simpati, kami butuh pertolongan dalam krisis ini," tegasnya.
Anak-anak Rula sendiri sudah dievakuasi dari wilayah itu akhir tahun kemarin. Meski pun tidak bertemu mereka, Rula yakin anak-anaknya jauh lebih baik dibanding mereka yang masih berada di Madaya.
"Ibu kami mengatakan situasi ini sangat buruk dan itulah alasan dia meninggalkan ayah saya. Saya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya," ujar Samar, anak perempuan Rula.
Kini kedua anaknya sudah tinggal bersama bibinya di Libanon.
Menurut data PBB, 5,4 juta masyarakat Suriah tinggal di wilayah kekerasan, seperti di Madaya, Moadamiy, al-Waer dan Aleppo Timur. Pada Agustus lalu, lembaga kemanusiaan mengatakan hanya sembilan persen orang yang tinggal di zona perang yang mendapat makanan.
"Tekanan tinggal di bawah kondisi seperti ini selama bertahun-tahun sangat berbahaya bagi mental kita, terutama anak-anak," pungkas Sonia Khush, Direktur Save for Children Suriah.
Perang terus terjadi di Suriah. Perang melawan kelompok teror Negara Islam Irak dan Suriah, perang melawan kelompok pemberontak dan lain sebagainya.
Akibat perang ini, anak-anak menjadi korban. Mereka kelaparan dan ketakutan. Tak hanya itu, yang pasti anak-anak ini butuh perlindungan.
Baca juga:
Kesepakatan penyelesaian krisis Suriah antara AS-Rusia gagal
Dubes Rusia: Peran media sangat penting dalam perdamaian dunia
[Video] Pembaca berita ini sampai menangis menyampaikan kisah Omran
Kisah bocah Suriah jadi buruh tekstil demi bertahan hidup di Turki
Ini sindiran nyelekit bocah Suriah untuk penggila Pokemon Go