Kota di Jerman larang imigran Timur Tengah datangi kolam renang
Prasangka negatif pada imigran meningkat pesat sebulan terakhir akibat insiden pelecehan seksual Cologne
Prasangka pada imigran semakin menguat di Jerman imbas dari pelecehan massal perempuan saat pesta tahun baru di Kota Cologne. Kota Bornheim, 30 kilometer di selatan Cologne, menyatakan semua imigran laki-laki yang sudah dewasa tidak boleh menggunakan fasilitas kolam renang umum.
Kepala Dinas Sosial Bornheim, Markus Schnapka, menyatakan kebijakan itu bukan bentuk rasisme. Dewan Kota meyakini sebagian imigran, terutama pencari suaka yang belum lama tiba di Jerman, masih membawa budaya lama yang terbiasa melecehkan perempuan.
"Kami sudah mendapat laporan, sekelompok laki-laki muda imigran memaksa perempuan di kolam mengobrol. Sebagian perempuan itu pergi," kata Schnapka seperti dilansir Tabloid Mirror, Sabtu (16/1).
Pemerintah Kota Bornheim tidak menjelaskan adakah batas waktu dari aturan ini. Imigran yang jadi sasaran utama kebijakan ini adalah yang berada di penampungan pengungsi.
Schnapka hanya menyebut Dinas Sosial akan lebih proaktif menjelaskan pada para pendatang, terutama asal Timur Tengah dan Afrika Utara, bahwa Jerman tidak bisa menerima perilaku merendahkan perempuan.
Saat ini media massa Jerman mulai membahas isu akan munculnya kartu pengenal khusus imigran. Sentimen antipendatang Timur Tengah turut menguat di Negeri Panzer. Jajak pendapat ZDF menunjukkan 66 persen dari 1.203 responden mengaku tak setuju dengan jumlah imigran yang meningkat di Jerman. Sikap negatif ini meningkat dibanding Desember, ketika hanya 46 persen yang sepakat pemerintahnya menerima banyak pencari suaka.
Jerman sepanjang 2015 menerima 1,1 juta imigran, kebanyakan pengungsi asal Suriah. Namun, kini muncul kritikan dari banyak pihak karena para pendatang itu melecehkan perempuan dan disebut suka berbuat onar.
(mdk/ard)