Kontroversi Upaya Menjadikan Kembali Hagia Sophia di Turki Sebagai Masjid
Pengadilan Tinggi Turki akan memutuskan dalam 15 hari ke depan apakah akan mengabulkan petisi untuk menjadikan Museum Hagia Sophia sebagai masjid. Keputusan mengubah status bangunan ikon Kota Istanbul yang awalnya merupakan katedral dinilai dapat memicu ketegangan dengan Barat.
Pengadilan Tinggi Turki akan memutuskan dalam 15 hari ke depan apakah akan mengabulkan petisi untuk menjadikan Museum Hagia Sophia sebagai masjid. Keputusan mengubah status bangunan ikon Kota Istanbul yang awalnya merupakan katedral dinilai dapat memicu ketegangan dengan Barat.
Seperti dikutip dari AFP, Kamis (2/7), Dewan Negara memberi perhatian terhadap petisi yang dibawa oleh LSM Turki, Asosiasi untuk Perlindungan Monumen Bersejarah dan Lingkungan, selama audiensi singkat.
Selesai dibangun pada tahun 537 di wilayah yang dulu bernama Konstantinopel, ibukota kekaisaran Bizantium, Hagia Sophia adalah katedral terbesar di dunia Kristen selama 900 tahun sebelum diubah menjadi masjid setelah kota itu jatuh ke tangan Kekaisaran Turki Ottoman pada tahun 1453.
Hagia Sophia kemudian diubah menjadi museum pada tahun 1934 di bawah pendiri republik Turki sekuler modern, Kemal Ataturk dan terbuka untuk orang-orang dari semua agama.
Tetapi seruan agar masjid itu berfungsi lagi telah memicu kemarahan di antara orang-orang Kristen dan memicu ketegangan antara musuh bersejarah dan yang juga sekutu NATO, Turki dan Yunani.
Didukung Erdogan tapi Pernah Ditolak Mahkamah Konstitusi
Sejak 2005, ada beberapa upaya untuk mengubah status Hagia Sophia. Pada 2018, Mahkamah Konstitusi menolak satu permohonan.
Dalam persidangan hari Kamis, jaksa menyerukan agar kasus terbaru dibatalkan, dengan alasan keputusan untuk mengubah status Hagia Sophia "adalah masalah Dewan Menteri dan Kepresidenan," kata kantor berita resmi Anadolu.
Namun Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan bulan lalu menunggu keputusan pengadilan administrasi tertinggi Turki - yang dikenal sebagai Danistay. "Langkah-langkah yang diperlukan akan diambil setelah putusan."
Erdogan juga mengatakan tahun lalu bahwa merupakan "kesalahan yang sangat besar" untuk mengubah Hagia Sophia menjadi museum.
"Keputusan Danistay kemungkinan akan menjadi keputusan politik. Apa pun hasilnya, itu akan menjadi hasil dari pertimbangan pemerintah," kata Asli Aydintasbas, perwakilan di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri.
Namun dia mengatakan pemerintah akan mempertimbangkan beberapa masalah, termasuk hubungan dengan Yunani, Eropa dan dengan AS di mana "agama adalah masalah penting".
Anthony Skinner dari firma penaksiran risiko Verisk Maplecroft mengatakan, mengubah Hagia Sophia menjadi masjid akan "membunuh setidaknya dua burung dengan satu batu" untuk Erdogan. Dia akan melayani basis Islamis dan nasionalisnya, dan mempertahankan jika tidak memperburuk ketegangan dengan Yunani, sambil berusaha untuk menjadikan Turki sebagai kekuatan yang tangguh.
"Erdogan tidak dapat menemukan simbol yang lebih kuat daripada Hagia Sophia untuk mencapai semua tujuan ini sekaligus," kata Skinner kepada AFP.
Pemimpin Turki dalam beberapa tahun terakhir menggelar perayaan yang meriah untuk memperingati penaklukan Bizantium oleh Ottoman. Sementara ulama muslim dalam beberapa kesempatan melaksanakan acara keagamaan di Hagia Sophia.
Protes Keras Yunani
Yunani yang berkepentingan terhadap peninggalan Bizantium di Turki dan konsen terhadap masalah tersebut karena ia memandang dirinya sebagai penerus modern bagi Byzantium Kristen Ortodoks.
Menteri Kebudayaan Yunani Lina Mendoni, yang mengirim surat protes ke UNESCO pekan lalu, mengatakan, langkah mengubah Hagia Sophia menjadi masjid akan menghidupkan kembali fanatisme nasional dan agama dan merupakan upaya untuk mengurangi pesona global bangunan itu.
Dia menuduh Turki menggunakan Hagia Sophia untuk melayani kepentingan politik internal, dengan alasan bahwa hanya UNESCO yang memiliki wewenang untuk mengubah status Hagia Sophia.
Dukungan terhadap sikap Yunani datang dari Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada hari Rabu yang mendesak Turki untuk tetap menjadikan Hagia Sophia sebagai museum, dan untuk memastikannya tetap dapat diakses oleh semua.
Rakyat Turki Terbelah
Rencana mengubah Hagia Sophia kembali menjadi masjid mendapat tanggapan pro kontra di masyarakat Turki. Pembuat sepatu Istanbul Mahmut Karagoz, 55, mengatakan dia bermimpi suatu hari bisa berdoa di bawah kubah Hagia Sophia.
"Itu adalah warisan nenek moyang Utsmani kita. Saya berharap doa kita akan didengar, nostalgia ini harus berakhir," katanya kepada AFP.
Namun mahasiswa ekonomi Sena Yildiz mengatakan dia percaya Hagia Sophia harus tetap sebagai museum.
"Ini adalah tempat penting bagi umat Islam, tetapi juga bagi orang Kristen dan bagi semua orang yang mencintai sejarah," katanya.
Status Hagia Sophia Saat Ini
Sejarah mencatat, Hagia Sophia pertama kali dibangun sebagai gereja antara 532 dan 537 M di bawah kaisar Justinian I dan dianggap sebagai struktur Bizantium yang paling penting.
Setelah penaklukan Ottoman atas Konstantinopel (sekarang Istanbul) pada tahun 1453, ia diubah menjadi masjid sebelum dibuka sebagai museum pada tahun 1935 setelah republik Turki modern sekuler didirikan pada tahun 1923. Bangunan ini telah ditambahkan ke daftar situs warisan dunia UNESCO pada tahun 1985.
Hingga kini, Hagia Sophia tetap menjadi museum dan mendatangkan jutaan turis setiap tahun. Pada 2019, Hagia Sophia menjadi objek wisata paling populer di Turki dengan 3,8 juta pengunjung.
Dalam beberapa tahun terakhir, ada lebih banyak kegiatan keagamaan Islam, salah satunya saat Presiden Erdogan membacakan ayat Alquran pada tahun 2018.
Pada awal 1994 ketika ia mencalonkan diri sebagai wali kota Istanbul, Erdogan berjanji akan membuka gedung itu untuk umat Islam melaksanakan salat.
Keputusan untuk mengubah status akan melukai hubungan Turki-Yunani, yang sudah tegang karena migrasi dan pengeboran minyak di Mediterania timur.
(mdk/bal)