Kaum gay Orlando marah dihalangi donor darah korban penembakan
Palang Merah AS khawatir sebagian dari mereka tertular HIV
Banyak kaum gay Orlando marah lantaran tidak diizinkan mendonorkan darahnya demi membantu korban penembakan di klub Pulse. Padahal, menurut mereka, aksi ini merupakan solidaritas bagi teman-teman mereka yang menjadi korban.
Alasan mereka ditolak untuk mendonorkan darah, karena menurut hukum federal, donor darah harus dilakukan oleh mereka yang bebas dari HIV. Dan menurut pihak palang merah, biasanya donor darah hanya bisa dilakukan kepada pria gay yang belum pernah berhubungan seks dengan pria lain selama setahun.
Oleh karena itu, kemarahan para kaum gay Orlando terjadi karena hanya bisa melihat teman-teman mereka tergolek lemas membutuhkan darah.
"Saya menikah. Saya gay dan aktif secara seksual dengan suami saya, tentu saja. Tetapi saya dianggap tidak memenuhi syarat untuk menyumbangkan darah," ujar Rob Domenico, anggota dewan dan ketua penggalangan dana di The Center, pusat komunitas utama LGBT Orlando, seperti dilaporkan AFP, Selasa (14/6).
Menurut Domenico, mereka sangat frustasi karena hanya bisa menunggu di depan bank darah selama berjam-jam, tanpa bisa membantu apapun.
"Pada saat kita paling dibutuhkan untuk membantu menyelamatkan saudara-saudara kita, dan tidak bisa berbuat apa-apa, hal itu justru yang membuat kita sangat frustasi," ujarnya mewakili kaum gay lainnya.
Sementara itu, di luar The Center, Chris Callen (34), mengaku kehilangan tujuh temannya.
"Saya kehilangan total tujuh (teman) dan saya baru diberitahu kehilangan seorang lagi di telepon. Saya hanya ingin membantu," seru waria yang bekerja di Pulse tersebut.
Dia mengaku terjangkit HIV sudah sejak tujuh tahun lalu. Walaupun merasa sehat, Callen mengatakan sakitnya benar-benar membuatnya tidak bisa membantu korban lainnya.
"Saya akan melakukan apa saja untuk membantu komunitas saya," tambahnya.
Pembatasan pemerintah pada kaum gay untuk memberikan darahnya kepada mereka yang membutuhkan cukup membuat frustasi. Karenanya beberapa kelompok aktivis hadir di The Center untuk memberikan konseling pada mereka yang stres, baik itu dari komunitas LGBT maupun keluarga korban.
Bahkan ada sekelompok orang membawa serta anjing-anjing berjenis golden retreiver untuk membantu mereka yang frustasi maupun kehilangan di tempat itu.
"Anjing merupakan teman yang baik bagi manusia, dan mereka bisa memberikan kenyamanan. Jadi kami membawa mereka, agar orang-orang ini bisa menumpahkan kesedihannya dan menjadi lebih tenang," ujar salah seorang dari kelompok tersebut.
Penyerangan yang terjadi Minggu dini hari di Orlando, Amerika Serikat, memakan 50 korban tewas dan 53 lainnya terluka. Pelaku penembakan berhasil dilumpuhkan setelah tiga jam menyandera para pelanggan Pulse.
(mdk/ard)