Kado siksa bagi pencari suaka
Perdana Menteri Tony Abbot sudah berjanji akan menghentikan kedatangan para pencari suaka ke Australia.
Pada 1 Januari lalu 45 pencari suaka di atas sebuah kapal kayu rombeng mendarat di Pulau Christmas, jauh dari Kota Darwin, Australia. Empat penumpang kapal dilaporkan tenggelam dan dinyatakan tewas.
Mereka yang selamat berasal dari Afrika dan Timur Tengah akhirnya sampai di pantai, di daratan Australia.
Dalam waktu kurang dari sejam, kapal perang Australia dan sejumlah kapal lain tiba. Personel militer memaksa para pencari suaka itu naik kembali ke kapal rombeng mereka dan mengusirnya ke Indonesia.
Apa yang sebenarnya terjadi sulit dijelaskan. Namun hasil wawancara Reuters dengan lima dari penumpang kapal itu mengungkapkan telah terjadi pelanggaran fisik terhadap mereka.
Perdana Menteri Tony Abbott saat kampanye tahun lalu sudah berjanji akan menghentikan kedatangan para pencari suaka ke Australia dengan cara mengusirnya ke Indonesia.
Menteri Imigrasi Scott Morrison mengatakan dia tidak akan menoleransi kedatangan para pencari suaka.
"Saya percaya kepada Angkatan Laut dan Petugas Perlindungan Perbatasan dan Bea Cukai bahwa mereka hanya akan menggunakan kekerasan jika diperlukan," kata dia, seperti dilansir the West Australian, Senin (10/2).
Sebanyak 16 ribu pencari suaka datang ke Australia dengan kapal pada tujuh bulan pertama di tahun lalu. Pemerintahan Abbot menyatakan sejak pertengahan Desember lalu tidak satu pun kapal pencari suaka tiba di Australia.
Para pencari suaka yang selamat dan kini berada di Kupang mengatakan kepada Reuters, militer Australia menggunakan tali plastik dan semprotan merica untuk mengusir para pencari suaka. Para penumpang kapal juga dilarang makan, minum, dan mendapat perawatan medis atau bahkan ke toilet.
"Kami katakan kepada mereka (militer), 'di arah sana, teman kami tenggelam. Mereka bilang: 'Tidak, kalian kembali ke kapal."
"Kami menolak, dan mereka mulai menggunakan kekerasan," kata Yousif Ibrahim Fasher, warga Sudan bisa berbahasa Inggris.
Para pria yang menolak diringkus dan dilemparkan ke kapal, kata Fasher. Dia juga melihat personel militer menendang dan memborgol salah satu pencari suaka mencoba kabur.
"Saya ingat mereka (militer Australia) melarang kami ke toilet. Melarang kami berdiri dan bicara," kata Bakil Abdul Hamid, warga yaman berusia 28 tahun. Kakaknya, Muhammad, termasuk salah satu penumpang tenggelam pada 1 Januari lalu.
Baca juga:
Biang ribut di laut
Indonesia diusik 3 negara tetangga, DPR lapor Panglima TNI
Komisi I curiga Singapura, PNG & Australia sekongkol tekan RI
'Australia harusnya bantu imigran, bukan malah mengusir'
Kemeriahan lomba lari berbikini di Australia