Israel masuk daftar negara larang pegiat hak asasi manusia
Israel kerap bertindak keras kepada para pegiat hak asasi manusia.
Anggota senior komisi hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Navi Pillay memasukkan Israel ke dalam daftar negara melarang kegiatan pemerhati hak asasi manusia Rabu pekan lalu.
Surat kabar Haaretz melaporkan, Senin (30/4), selain Israel yang baru saja merayakan hari ulang tahun kemerdekaan ke 64 Kamis pekan lalu, ada beberapa negara lagi melarang aktivitas serupa, yakni Belarusia, Zimbabwe, Mesir, Ethiopia, dan Venezuela.
Enam bulan lalu, Kementrian telah mengesahkan undang-undang yang melarang lembaga swadaya masyarakat di Israel menerima dana dari pihak asing. Perdana Menteri Benyamin Netanyahu setuju dengan disahkannya undang-undang, tapi dia minta pelaksanaannya ditunda karena Jaksa Agung Yehuda weinstein mengatakan beleid itu bakal digugat di Pengadilan Tinggi.
Navi Pillay mengatakan peraturan tentang penerimaan dana asing punya dampak besar terhadap lembaga swadaya masyarakat pegiat hak asasi manusia di Israel. Keharusan membuat laporan keuangan berkala, membeberkan daftar penyumbang asing, dan mengumumkannya kepada publik dinilai bakal memberatkan.
Maret lalu, Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman memerintahkan perwakilan Negeri Bintang Daud untuk PBB di Jenewa, Swiss, agar keluar dari komisi hak asasi manusia PBB setelah seluruh anggota Dewan Hak Asasi Manusia membentuk komisi internasional buat menyelidiki pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat.
Menurut seorang sumber senior di Kementrian Luar Negeri Israel mengatakan hal itu merupakan kesalahan dari Lieberman dan kini mereka yang menanggung akibatnya.
Israel kerap bertindak keras kepada para pegiat hak asasi manusia. Pada 9 Mei 2010, enam kapal pengangkut aktivis yang berlayar dari Siprus dicegat di perairan Israel dan ditahan saat hendak menuju ke Jalur Gaza.
Kapal penumpang berbendera Turki Mavi Marmara yang mengangkut jurnalis dan pegiat hak asasi manusia diserang Angkatan Laut Israel bersenjata lengkap. Hasilnya, sembilan orang tewas, 6 di antaranya warga negara Turki, sisanya ditahan selama beberapa hari termasuk jurnalis dari Indonesia.
Dua pekan lalu, dalam sebuah rekaman video, seorang perwira Israel, Letkol. Shalom Eisner memukul wajah pegiat aktivis Denmark Andreas Ias di muka menggunakan popor senapan saat sedang berunjuk rasa di Jericho, Tepi Barat.(mdk/fas)