LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. DUNIA

ISIS Mulai Bangkit di Libya, Manfaatkan Pertikaian Pemberontak dan Pemerintah

ISIS disebut mulai bangkit di Libya. Organisasi teroris internasional tersebut memanfaatkan pertikaian antara pemberontak dan pemerintah sehingga tak ada pihak yang memperhatikan kebangkitannya.

2020-01-18 07:29:00
Ekstremis ISIS
Advertisement

Ini mungkin mengejutkan bagi publik Amerika dan media arus utama yang sebagian besar mengabaikan peristiwa yang meningkat baru-baru ini di Libya. Muncul desas-desus bahwa ISIS telah bangkit kembali.

"Pemerintahan Donald Trump melihat kebangkitan 'kecil' ISIS di Libya sejak orang kuat Khalifa Haftar memulai serangan berdarah di ibu kota Tripoli lebih dari dua bulan lalu," kata pejabat militer peringkat kedua Pentagon, seperti dilaporkan koresponden Pentagon, Al-Monitor.

Pejuang pasukan Libya yang beraliansi dengan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang didukung Amerika Serikat (AS) menembakkan roket ke pejuang ISIS di Sirte, Libya, pada 4 Agustus 2016.

Advertisement

Pejabat Pentagon, Wakil Ketua Gabungan Kepala Staf Paul Selva, menggambarkan pertarungan tiada akhir di Tripoli antara Jenderal Khalifa Haftar yang bermarkas di Benghazi dan GNA yang didukung-PBB dan diakui Turki, memberi ruang bagi bangkitnya ISIS di negara itu.

Dalam tiga tahun terakhir, di tengah kekacauan pasca perang AS-NATO 2011 yang menggulingkan pemimpin Libya Muammad Gaddafi, ISIS sebenarnya memiliki benteng di kota pesisir Sirte sebelum dikalahkan pasukan Libya yang didukung AS.

"Karena mereka sekarang saling kejar di ibu kota, itu benar-benar mengalihkan perhatian mereka dari ISIS dan kami telah melihat kebangkitan kecil dari kamp (ISIS) di wilayah tengah," kata Paul Selva, seperti dikutip dari Almasdar News, Jumat (17/1).

Advertisement

Hal yang dikhawatirkan, ini akan dijadikan celah oleh ISIS untuk menjadi orang ketiga dalam konflik.

Pasukan AS membantu memerangi ISIS di Libya meninggalkan negara itu pada April ketika kondisi keamanan memburuk. Selva mengatakan dia khawatir ISIS menjadi "pihak ketiga dalam pertarungan di Libya."

Peringatan Raja Yordania Abdullah II

Sebelumnya, Raja Yordania Abdullah II pada Senin memperingatkan ISIS mulai membentuk kelompoknya lagi dan bangkit kembali di Timur Tengah.

Beberapa bulan setelah ISIS terusir dari wilayah kekuasannya di Suriah, Raja Abdullah mengatakan fokus utama pihaknya adalah memantau ISIS. Pihaknya pun melihat tahun lalu ISIS mulai bangkit dan membangun kembali wilayahnya, tidak hanya di wilayah timur selatan Suriah, tapi juga di barat Irak.

"Kita harus berurusan dengan kebangkitan kembali ISIS," jelasnya dalam sebuah wawancara dengan saluran TV France 24 menjelang perundingan pekan ini di Brussels, Strasbourg dan Paris.

Dia juga mengatakan banyak pejuang asing dari Suriah sekarang berada di Libya.

"Dari perspektif orang Eropa, dengan Libya jauh lebih dekat ke Eropa, ini akan menjadi pembahasan penting dalam beberapa hari ke depan," jelasnya, seperti dikutip dari Alarabiya, Selasa (14/1).

"Beberapa ribu pejuang telah meninggalkan Idlib (Suriah) melalui perbatasan utara dan berakhir di Libya, itu adalah sesuatu bagi kita di wilayah ini tetapi juga kawan-kawan Eropa kita harus mengatasi ini pada tahun 2020."

Mengenai meningkatnya eskalasi antara Iran dan Amerika Serikat, Abdullah berharap dalam beberapa bulan pihaknya bisa satu suara dengan negara-negara di kawasan tersebut sehingga ketegangan bisa menurun. Karena menurutnya apa yang terjadi di Teheran akan berdampak ke Baghdad, Amman, Beirut, dan proses perdamaian Israel-Palestina.

Abdullah menambahkan, pengerahan pasukan Turki baru-baru ini dalam kapasitas pelatihan ke Libya "hanya akan menciptakan lebih banyak kebingungan" di negara itu.

Kedua belah pihak dalam konflik Libya sepakat untuk gencatan senjata dari hari Minggu untuk mengakhiri pertempuran sembilan bulan, setelah diplomasi internasional selama beberapa pekan dan menyerukan gencatan senjata oleh Rusia dan Turki.

Sebuah laporan PBB pada November mengatakan beberapa negara melanggar embargo senjata terhadap Libya sejak penggulingan mantan Presiden Libya Muammar Qaddafi pada 2011.

Tentara Nasional Libya dilaporkan telah menerima dukungan dari Uni Emirat Arab, Yordania, Mesir dan Rusia, sementara Turki mendukung Pemerintah Kesepakatan Nasional yang diakui PBB dan memilih bulan ini untuk mengizinkan penempatan pasukan ke negara Afrika Utara itu.

Yordania, yang kestabilannya dipandang penting bagi Timur Tengah yang bergejolak, menampung sekitar 1,3 juta pengungsi dari Suriah yang dilanda perang.

(mdk/pan)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.