ISIS mengaku dalangi pembunuhan jemaat Kristen Koptik Mesir
Mesir sudah membombardir markas militan ISIS di sebelah timur Libya sebagai aksi balasan.
Kelompok Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) mengklaim bertanggung jawab dalam penembakan sebuah bus berisi jemaat Kristen Koptik Mesir, menewaskan 29 orang, di Kota Minya. Sedangkan 24 lainnya mengalami luka-luka.
Seorang saksi menyatakan, sebelumnya para penyerang mengenakan penutup wajah lebih dulu memberhentikan kendaraan ditumpangi sepuluh jemaat gereja. Penumpangnya lantas diminta turun. Tak lama kemudian mereka mencegat bus rombongan itu di tengah jalan. Kemudian mereka naik ke dalam lantas melepaskan tembakan ke arah para jemaat.
"Unit pengamanan dari tentara khalifah (ISIS) membuat pencegatan dan menyergap sekitar sepuluh jemaat hendak menuju Gereja Saint Samuel, di sebelah barat Kota Minya," tulis ISIS dalam keterangannya, seperti dilansir dari laman Al-Arabiya, Minggu (28/5).
Kini, 13 korban luka masih dirawat di rumah sakit di Ibu Kota Kairo dan Minya. Presiden Mesir, Abdul Fattah al-Sisi, menyatakan tidak segan menyerang basis ISIS di mana pun. Dia juga berjanji kepada pimpinan Gereja Koptik di Mesir, Paus Towadros II, akan terus memburu para pelaku.
Mesir juga melancarkan serangan udara ke markas militan di Derna, sebelah timur Libya. Namun belum diketahui apakah target berhasil dihancurkan atau justru meleset.
Al-Jazeera masuk situs terlarang di Mesir
Sementara itu, pemerintah Mesir menyatakan sejumlah situs berita asal Qatar dikategorikan terlarang karena diduga mendukung terorisme dan ekstremis. Bahkan, situs berita Al-Jazeera termasuk di dalamnya.
Sumber di pemerintahan Mesir menyatakan situs-situs itu adalah Al-Jazeera, Grup Media Al-Jazeera, saluran dokumenter Al-Jazeera, laman bahasa Inggris Al-Jazeera, Kantor Berita Qatar, al-Watan, al-Raya, al-Arab, dan ash-Sharq.
Mereka dituding menyebarkan fitnah. Namun, langkah itu diambil pemerintah Mesir setelah Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab menyatakan pada Rabu lalu kalau seluruh situs berita bermarkas di Qatar adalah terlarang.
Hanya saja, Uni Emirat Arab sebenarnya juga mengikuti langkah Arab Saudi yang lebih dulu melarang sejumlah situs itu.
Baca juga:
Pria bersenjata serang dua bus di Mesir, bantai anak-anak
Penembakan bus berpenumpang jemaah Kristen Koptik di Mesir, 26 tewas
Pemerintah waspadai ekstremis ISIS dari Filipina ke Indonesia
Irak terus gempur ISIS selama Ramadan, Jenderal Iran tewas di Mosul