ISIS masih eksis
Militer Amerika Serikat dan sekutunya melihat keberhasilan dalam membasmi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Setelah kehilangan wilayahnya, kemungkinan terjadi pergeseran atau perubahan strategi ISIS.
Militer Amerika Serikat dan sekutunya melihat keberhasilan dalam membasmi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Namun ternyata beberapa hari lalu ISIS kembali melancarkan serangan.
Aksi teror terjadi di sebuah masjid di Mesir. 300 orang jadi korban tewas. Saksi mata melihat puluhan penyerang membawa bendera ISIS.
Aksi sebelumnya dilakukan Sayfullo Saipov. Pria yang terinspirasi ISIS ini mengendarai truk ke jalan yang dipenuhi pejalan kaki di jalan raya New York, West Side. Aksinya menewaskan delapan orang.
Saat pejuang ISIS melarikan diri dari wilayah Irak dan Suriah, para ahli dan pejabat kontra-teror AS mengatakan bahwa fase teror ISIS berikutnya sudah dimulai. Lalu muncul situs propaganda ISIS yang baru-baru ini mengancam menyerang pasar Natal di Inggris dan Prancis, setelah menyerang pasar Natal Berlin tahun lalu.
"Sementara kehadiran ISIS di dunia nyata dapat menjadi lebih terdesentralisasi dan menyebar, kehadiran mereka di dunia digital masih kuat, mempengaruhi orang-orang di Eropa dan Amerika Serikat," kata John Cohen, mantan Department of Homeland Koordinator kontraterorisme keamanan, seperti dilansir dari ABC News, Selasa (28/11).
Setelah kehilangan wilayahnya, kemungkinan terjadi pergeseran atau perubahan strategi ISIS.
ISIS menjadi khalifah
Dengan jatuhnya Raqqa ke tangan Suriah, ISIS menolak kekhalifahan atau negara. Pasukan Demokrat Suriah, sebuah aliansi milisi Kurdi dan Arab yang didukung oleh Amerika, mengumumkan kemenangan pada 20 Oktober. Ini menandai pembebasan kota yang berada di bawah gengaman ISIS sejak 2014. Ibu kota ISIS di Irak, Mosul, jatuh pada bulan Juli.
Bukan mustahil ISIS bangkit atau muncul organisasi penggantinya. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mencatat, ISIS berambisi merebut kembali kota di provinsi Homs dari pasukan Suriah.
Selain itu, ISIS yang mayoritas pejuang asing dari seluruh dunia mencoba cara lain di luar pertempuran dengan masuk ke dalam khalifah atau negara.
Koalisi yang dipimpin AS menutup ruang gerak agar tidak ada pejuang ISIS yang meninggalkan Raqqa di hari-hari terakhir pertempuran. Namun juru bicara koalisi Kolonel Ryan Dillon tidak bisa memastikan 100 persen bahwa pejuang ISIS teridentifikasi keluar dari Raqqa.
ISIS di Amerika Serikat dan negara Barat
Jika pejuang asing bisa melarikan diri dari Raqqa, mereka bisa kembali ke rumah masing-masing. Ahli anti teror mengatakan banyak pejuang asing yang datang ke Irak dan Suriah dari Eropa.
"Banyak Muslim Eropa kurang baik saat berintegrasi dalam komunitas mereka, yang membuat mereka enggan bekerja sama dengan dinas intelijen dan penegakan hukum," Daniel Byman, seorang senior di Pusat Kebijakan Timur Tengah di Brookings.
"Tindakan seperti Executive Order 13769, atau larangan untuk Muslim, membuat ISIS dan kelompok lain mengklaim bahwa negara Barat sedang berperang dengan Islam," kata Byman.
Hubungan baru untuk ISIS
Pejuang asing yang tidak kembali ke Amerika Serikat atau Eropa, kemungkinan mencari daerah lain untuk mengumpulkan kekuatan dan menggerakkan kembali kelompok tersebut.
Negara-negara di Afrika tengah dan selatan dianggap menjadi tempat berlindung aman karena minimnya kehadiran kontra-teror AS. Libya, Yaman, Somalia dan Mesir kemungkinan menjadi tempat berkumpulnya kembali ISIS. Alasannya, lemahnya pengawasan pemerintahan negara-negara tersebut.
"Apa yang kami lihat di Niger dan apa yang kami lihat di Mesir adalah pertanda hal-hal yang akan datang, serangan yang lebih agresif oleh kelompok ekstremis regional, karena barisan mereka yang dipenuhi oleh pejuang yang melarikan diri dari Irak dan Suriah," kata Cohen.
Baca juga:
Polisi Australia tangkap simpatisan ISIS berniat teror malam tahun baru
Aksi pesawat Rusia jatuhkan bom ke markas ISIS di Suriah
Suasana mencekam Masjid di Mesir dipenuhi mayat bergelimpangan
Korban tewas serangan di masjid Mesir bertambah menjadi 235 orang
Tak ada korban WNI dalam serangan di masjid Mesir