LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. DUNIA

"Ini Masa Terkelam dalam Sejarah dan Setelah Itu Fajar akan Menyingsing"

Sudah lebih dari 80 nyawa demonstran melayang saat pemimpin sipil Myanmar mengatakan rakyat berhak mempertahankan diri dalam menghadapi tindakan keras aparat keamanan untuk menentang kudeta militer 1 Februari lalu.

2021-03-14 12:19:29
Myanmar
Advertisement

Sudah lebih dari 80 nyawa demonstran melayang saat pemimpin sipil Myanmar mengatakan rakyat berhak mempertahankan diri dalam menghadapi tindakan keras aparat keamanan untuk menentang kudeta militer 1 Februari lalu.

Lima orang tewas dan puluhan lainnya luka ketika polisi melepaskan tembakan ke arah demonstran di Kota Mandalay, kota terbesar kedua, kemarin.

Dua orang tewas di tengah Kota Pyay dan dua lagi di Ibu Kota Yangon. Media lokal mengatakan sepanjang malam aparat keamanan juga terus membunuhi demonstran.

Advertisement

"Mereka bertindak seolah ada di medan perang berhadapan dengan rakyat tak bersenjata," kata aktivis Myat Thu di Mandalay. Dia menyebut korban tewas di kotanya termasuk bocah berusia 13 tahun.

Si Thu Tun, salah seorang demonstran, mengatakan dia melihat dua orang ditembak, termasuk seorang biksu Buddha.

"Yang satu ditembak di selangkangan dan satu lagi diberondong sadis," kata dia.

Advertisement

Mahn Win Khaing Than, tokoh senior dari Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang kini masih bersembunyi dari kejaran aparat, menyampaikan pesan melalui laman Facebooknya:

"Ini masa terkelam dalam sejarah bangsa dan inilah saatnya fajar akan segera tiba."

Dia menuturkan pemerintahan sipil akan berupaya membuat undang-undang yang membolehkan warga mempertahankan diri menghadapi tindakan keras aparat.

Kelompok pembela HAM Assistance Association for Political Prisoner mengatakan lebih dari 80 orang tewas dan 2.100 lainnya ditangkap.

Sedikitnya 13 demonstran dibunuh kemarin. Media lokal dan saksi mata mengatakan kemarin adalah hari terburuk sejak kudeta militer 1 Februari lalu.

Seorang sopir truk di Kota Chauk di wilayah Magwe tewas setelah dadanya ditembak polisi, ujar keluarga temannya.

Juru bicara junta militer tidak mengangkat telepon dari Reuters yang ingin meminta tanggapan. Media milik junta MRTV pada siaran malam menyebut demonstran adalah kriminal.

Unjuk rasa Sabtu kemarin terjadi setelah muncul seruan di media sosial untuk memperingati kematian Phone Maw, aktivis yang ditembak mati aparat keamanan pada demonstrasi 1988.

Penembakan dirinya dan sejumlah mahasiswa lain beberapa pekan kemudian memicu gelombang unjuk rasa besar menentang pemerintahan militer dan peristiwa itu dikenal dengan Demo-8-8-88 karena terjadi pada bulan Agustus di tahun itu. Diperkirakan ada 3.000 tewas ketika aparat menindak demonstran kala itu.

Aung San Suu Kyi kemudian muncul menjadi ikon demokrasi pada saat itu dan dia menjalani tahanan rumah selama lebih dari dua dekade.

Suu Kyi dibebaskan pada 2010 saat militer memulai reformasi demokrasi. Partainya NLD memenangkan pemilu pada 2015 dan kembali meraih suara mayoritas pada November tahun lalu.

Junta militer menuding terjadi kecurangan dalam pemilu November dan menahan Suu Kyi serta jajaran kabinet hingga kini.

(mdk/pan)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.