LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. DUNIA

Ini alasan Bangladesh larang anak pengungsi Rohingya menerima pendidikan formal

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemarin mengatakan anak-anak pengungsi Rohingya tidak memiliki pendidikan yang layak di kamp-kamp darurat di Bangladesh.

2018-08-24 19:54:47
Muslim Rohingya
Advertisement

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemarin mengatakan anak-anak pengungsi Rohingya tidak memiliki pendidikan yang layak di kamp-kamp darurat di Bangladesh. Jika hal itu dibiarkan, maka akan memicu "generasi yang hilang" di masa depan.

Pernyataan tersebut disampaikan PBB melalui badan urusan pengungsi, Unicef, yang menyoroti hampir setengah jumlah anak dari sekitar 700 ribu pengungsi Rohingya. Mereka meninggalkan kampung halaman di negara bagian Rakhine, Myanmar, karena kekerasan operasi militer pemerintah.

Kehidupan dan masa depan lebih dari 380.000 anak-anak di kamp-kamp pengungsi di Bangladesh dalam bahaya, sementara ratusan ribu anak-anak Rohingya masih di Myanmar terputus dari bantuan, tulis laporan oleh Unicef, sebagaimana dikutip dari The Guardian pada Kamis (23/8).

Advertisement

"Bangladesh melarang para pengungsi menerima pendidikan formal, karena pemerintah di sana khawatir populasi muslim Rohingya menjadi penduduk permanen," kata juru bicara Unicef, Alastair Lawson-Tancred.

Pada awal krisis pengungsi, lembaga terkait mendirikan pusat pembelajaran informal untuk anak-anak berusia tiga hingga 14 tahun, tetapi remaja yang lebih tua merasa terasingkan dan putus asa, kata Lawson-Tancred.

Sebagian besar pengungsi melintasi perbatasan dalam empat bulan pertama operasi militer, yang dimulai setelah gerilyawan Rohingya melancarkan serangan mematikan terhadap pasukan keamanan di perbatasan negara bagian Rakhine pada 25 Agustus 2017.

Advertisement

Para pejabat Myanmar telah berulang kali membantah bahwa tentara melakukan kekejaman terhadap warga sipil Rohingya, yang telah didokumentasikan oleh aktivis dan termasuk pemerkosaan, pembunuhan dan pembakaran.

Sementara itu, studi oleh badan amal Save the Children terungkap pada pekan ini, bahwa lebih dari 6.000 anak tinggal seorang diri, terpisah dari orang tua, di Cox's Bazar, yang merupakan pusat kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh.

Beberapa lembaga amal dikabarkan setidaknya mampu menyediakan layanan dasar bagi anak-anak, seperti sekolah darurat, bimbingan konseling, dan akes literatur.

Namun hal itu diakui oleh para relawan, masih jauh dari tuntas karena kamp-kamp pengungsi yang penuh sesak rentang mengalami banjir, tanah longsor, dan bahan wabah penyakit.

Reporter: Happy Ferdian Syah Utomo

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Aung San Suu Kyi: Terorisme di Rakhine ancaman bagi kawasan
Cerita mereka yang tak ingin kembali ke tanah kelahirannya
Ketika ujaran kebencian di Facebook menindas muslim Rohingya di Myanmar
Myanmar minta Bangladesh hentikan pengiriman bantuan untuk Rohingya
Mempertahankan tradisi di tanah pelarian
Kamp transit buat warga Rohingya di Myanmar sepi dari pengungsi

(mdk/pan)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.