Indonesia Masuk Lima Negara dengan Angka Kematiannya Tertinggi karena Polusi Udara
Laporan penelitian terbaru dari Institut Dampak Kesehatan di Amerika Serikat dan Universitas British Columbia di Kanada menyebut polusi udara adalah penyebab nomor lima kematian di seluruh dunia.
Laporan penelitian terbaru dari Institut Dampak Kesehatan di Amerika Serikat dan Universitas British Columbia di Kanada menyebut polusi udara adalah penyebab nomor lima kematian di seluruh dunia. Menurut laporan yang dirilis hari ini itu warga dunia lebih banyak meninggal karena polusi udara ketimbang malaria, kecelakaan di jalan raya, gizi buruk atau minuman beralkohol.
Dilansir dari laman Dawn, Rabu (3/4), polusi udara yang terjadi saat ini berdampak paling parah di kawasan Asia Selatan, termasuk Asia Tenggara.
Secara rata-rata di seluruh dunia polusi udara menyebabkan masa harapan hidup anak-anak berkurang hingga 20 bulan. Asia Selatan angka itu mencapai 30 bulan karena dampak campuran polusi udara dan udara dalam ruangan yang kotor.
Di Asia Timur polusi udara akan memperpendek harapan hidup anak-anak hingga 23 bulan. Asia Pasifik dan Amerika Utara harapan hidup anak-anak berkurang 20 bulan.
Laporan yang memakai data hingga akhir 2017 itu memperkirakan jika tingkat pencemaran udara menyesuaikan dengan arahan yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) maka angka harapan hidup anak-anak bisa bertambah hingga 1,3 tahun. Di India, Nigeria dan Pakistan, harapan hidup itu akan bertambah sampai satu tahun.
China masih menjadi negara dengan angka kematian karena polusi udara tertinggi di dunia. Sebanyak 852 ribu kasus kematian karena polusi udara terjadi pada 2017 di Negeri Tirai Bambu.
Lima negara dengan angka kematian tertinggi akibat polusi udara ada di Asia, yaitu China, India, Pakistan, Indonesia, dan Bangladesh.
Hampir separuh dari populasi dunia terpapar polusi udara, termasuk sekitar 846 juta warga di India dan 452 juta di China.
Penelitian Oktober lalu oleh WHO menyatakan udara yang beracun saban tahun menyebabkan kematian sekitar 600.000 anak-anak di bawah usia 15 tahun.
Data dari WHO mengatakan setiap hari 93 persen anak-anak di bawah usia 15 menghirup udara tercemar yang berbahaya.
Baca juga:
Pemerintah Thailand Didesak Umumkan Darurat Nasional karena Polusi Udara Kian Parah
Hiu di Karimunjawa Mendadak Mati Massal, Diduga Karena Terpapar Racun
PT RUM Klaim Bau Busuk Yang Dikeluhkan Warga Sukoharjo Sudah Ditangani
Kehidupan Satwa Langka Galapagos Terancam Sampah Plastik
Sungai Penuh Sampah, Warga Palembang Terancam Krisis Air Bersih
Polisi Tunggu Hasil Lab Terkait Ikan Mati di Penangkaran Hiu Karimunjawa