LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. DUNIA

Indonesia Bisa Belajar dari Korsel: Tes Virus Corona Cepat, Mudah, Transparan

Tingkat kematian di Korea Selatan terendah di dunia, hanya 1 persen.

2020-03-20 07:08:00
Korea Selatan
Advertisement

Lebih dari 8.800 orang di seluruh dunia meninggal karena Covid-19 yang disebabkan virus corona baru. Sejumlah negara memberlakukan langkah dengan menutup perbatasan negara dan meminta warganya diam di rumah untuk menghentikan penyebaran virus, yang telah ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO.

Pemerintah Indonesia kemarin mengumumkan tes massal atau rapid test akan mulai dilakukan.

Tapi di Korea Selatan, yang pernah menjadi negara dengan wabah terburuk di luar China, kehidupan terlihat tampak normal.

Advertisement

Puluhan orang mengantre di apotek untuk membeli masker yang dijatah pemerintah setiap pekan dan banyak yang bekerja dari rumah, tetapi bisnis terus berjalan dan kota-kota belum diisolasi oleh pemerintah.

Bahkan tingkat kematian di Korea Selatan terendah di dunia, hanya 1 persen.

"Korea Selatan benar-benar membedakan dirinya karena mampu mengungkapkan informasi secara transparan dan memerangi virus," kata Hwang Seung-sik, seorang ahli epidemiologi dan profesor di Universitas Nasional Seoul, dikutip dari Aljazeera, Kamis (19/3).

Advertisement

"Kami melakukan yang terbaik untuk mengumpulkan sumber daya dan kami bekerja keras untuk mengetes orang secara massal dan melakukan karantina. Tetapi virus corona sudah ada sekitar tiga bulan sekarang, dan tidak begitu jelas persiapan apa yang telah dilakukan AS atau negara-negara Eropa lainnya."

Langkah Cepat

Wabah virus corona di Korsel adalah pelajaran untuk penanganan awal dan penghentian penyebaran dengan cepat.

Pada 18 Februari, Korsel mendiagnosa 31 pasien dengan Covid-19, dan dinilai sebagai negara yang penyebarannya sangat cepat.

Perempuan paruh baya yang ikut dalam ibadah massal di Gereja Yesus yang kemudian diidentifikasi sebagai Pasien 31 menularkan virus ke anggota jemaat lainnya dan juga warga Daegu yang tidak termasuk dalam perkumpulan itu.

Tiba-tiba, kasus melonjak 180 kali lipat dalam rentang dua pekan. Pada puncaknya, para ahli medis mendiagnosis lebih dari 900 kasus baru sehari, menjadikan Korsel wabah terbesar kedua di dunia.

Sekarang, tingkat pertumbuhan telah melambat secara signifikan - dan bahkan ada pembicaraan bahwa wabah mungkin telah memuncak.

"Kami memang berhasil menurunkan angka kasus baru yang dikonfirmasikan menjadi kurang dari 100 per hari. Ini adalah pencapaian besar, tapi kami belum bisa merayakannya," kata Hwang.

"Ini bisa menjadi ilusi optik yang membodohi kita untuk percaya bahwa wabah telah berakhir - ilusi yang disebabkan oleh angka-angka yang sebelumnya meroket di Daegu."

Lebih dari 8.500 orang didiagnosa positif virus corona di Korsel pada 19 Maret, dan hampir sepertiga kasus itu berpusat di Daegu.

Kendati demikian, ahli medis memperingatkan Korsel jangan terlalu percaya diri.

"Sulit mengatakan bahwa pemerintah Korea berhasil mengendalikan virus corona," kata dokter di Departemen Laboratorium Kedokteran Pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional Rumah Sakit Ilsan, Roh Kyoung-ho.

"Karena Korea adalah negara dengan kepadatan populasi yang tinggi, kemungkinan besar virus corona dapat kembali dengan kekuatan propagasi yang tinggi dan bahkan mungkin hanya muncul sebagai infeksi kelompok kecil. "

Pekan lalu, Korsel melihat sekelompok kasus baru di sekitar call center di Seoul, membalikkan tren penurunan infeksi selama 11 hari.

Pada Kamis, sebuah cluster baru muncul di panti jompo di Daegu, mengakhiri empat hari kasus harian di bawah 100.

"Kita seharusnya tidak menyombongkan pencapaian kita dulu," Hwang setuju.

Galakkan Tes

Namun demikian, keberhasilan Korsel dalam mengendalikan epidemi telah mendapat pujian dari seluruh dunia.

Ketika para ilmuwan China pertama kali mempublikasikan urutan genetik virus Covid-19 pada Januari, setidaknya empat perusahaan Korea Selatan diam-diam mulai mengembangkan dan mengumpulkan alat tes bersama pemerintah - jauh sebelum negara itu mengalami wabah pertama.

Pada saat keadaan memburuk, negara ini memiliki kemampuan untuk mengetes lebih dari 10.000 orang per hari, termasuk di pusat pengujian drive-thru darurat dan bilik telepon konsultasi yang baru ditambahkan di rumah sakit.

Siapa pun yang memiliki ponsel di negara itu juga menerima peringatan tentang jalur infeksi terdekat sehingga warga dapat menghindari area di mana virus diketahui aktif.

Pada saat yang sama, pemerintah Korsel membuat aplikasi berkemampuan GPS untuk memantau mereka yang berada di bawah karantina dan membunyikan alarm jika mereka pergi ke luar. Wisatawan yang memasuki negara tersebut juga diminta untuk mencatat gejala mereka pada aplikasi yang dibuat pemerintah.

Tidak seperti negara lain, Korsel juga berhasil menurunkan penyebaran wabah tanpa isolasi kota atau larangan bepergian. Bahkan, istilah "jarak sosial" pertama kali berasal dari negara ini yang digalakkan Presiden Korsel.

Namun, itu tidak berarti semua negara lain harus mengikutinya.

"Karena Korea memiliki kemampuan untuk mengambil sampel dan menguji lebih cepat daripada di negara lain, tidak ada alasan untuk melakukan apa yang dilakukan negara lain (dan lockdown)," kata Roh.

"Metode menutup daerah-daerah tertentu dan menghentikan pergerakan adalah apa yang dilakukan orang-orang di Abad Pertengahan ketika mereka berurusan dengan Black Death (wabah pes). Itu karena mereka tidak tahu apa yang menyebabkan infeksi pada saat itu dan mereka tidak tahu di mana penyakit itu menyebar. "

Setidaknya 15 perusahaan Korsel berlomba untuk mengembangkan vaksin dan perawatan lain untuk Covid-19. Beberapa berupaya mengembangkan alat pengujian untuk digunakan orang di rumah, sementara yang lain sudah sampai tahap uji klinis.

Hwang memperkirakan baru sekitar paruh kedua 2021 vaksin akan tersedia untuk umum.

Sampai saat itu tiba beberapa metode lama penanggulangan, didukung oleh teknologi abad ke-21, mungkin masih terbukti paling efektif.

"Kita harus tetap fokus pada perjuangan kita melawan krisis ini sampai saat itu tiba," katanya.

(mdk/pan)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.