Indonesia bakal hadapi tantangan lebih besar di 2017
Menlu Retno Marsudi menyebut Indonesia bakal hadapi tantangan lebih besar di 2017. Hal ini dikarenakan masyarakat internasional mengantisipasi perkembangan strategis hubungan antara pemegang kuasa serta dampaknya bagi tatanan internasional. Ada 14 bentuk diplomasi yang akan difokuskan pada 2017.
Memasuki tahun baru 2017, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi menyebut negara akan menghadapi tantangan tidak lebih kecil dari tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan masyarakat internasional mengantisipasi perkembangan strategis hubungan antara pemegang kuasa serta dampaknya bagi tatanan internasional.
"Semua negara kini tengah menunggu kebijakan yang akan diambil administrasi baru Amerika Serikat. Selain itu, dunia juga menunggu hasil pemilu di beberapa negara Eropa. Semuanya dapat mempengaruhi tatanan global," kata Retno di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta Pusat, Selasa (10/1).
Dengan meningkatnya proyeksi tantangan di 2017, kata Retno, semua elemen diplomasi juga akan bekerja lebih keras lagi untuk menjadikan dunia lebih baik dari tahun sebelumnya.
"Seluruh diplomasi akan bekerja lebih keras untuk berkontribusi serta menjadikan dunia lebih damai dan sejahtera di mana setiap manusia dapat menikmatinya," tutur menteri luar negeri perempuan pertama di Indonesia itu.
Retno menyebut, bentuk diplomasi yang akan di fokuskan di 2017 ada 14. Salah satunya adalah penguatan keanggotaan Indonesia pada organisasi ASEAN.
"Indonesia akan melakukan kontribusi konkret di ASEAN demi menjaga stabilitas di kawasan dan memperkokoh persatuan dan kesatuan ASEAN. Oleh karenanya, Indonesia akan melakukan perundingan Code of Conduct (CoC) untuk memastikan perdamaian kawasan," papar Retno.
Tak hanya melalui ASEAN, Indonesia bertekad menyukseskan KTT IORA dan menandatangani IORA Concord agar IORA terus menjadi organisasi kawasan yang responsif terhadap tantangan baru.
Selain itu, Indonesia juga akan mengoptimalkan dukungan agar bisa masuk dalam pencalonan anggota tidak tetap dewan keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Di tahun 2017, Indonesia juga akan mewujudkan visi 4000 pasukan keamanan tahun 2019, menyatakan komitmen akan dukungan terhadap kemerdekaan palestina, mempelajari demokrasi lebih dalam melalui Bali Democracy Forum (BDF), serta menyelesaikan perbatasan dengan negara tetangga," jelasnya.
Untuk bidang ekonomi, Indonesia akan mengintensifkan kerja sama pembangunan, perdagangan, dan investasi dengan kawasan Afrika dan Amerika Latin.
"Dengan mendorong percepatan perundingan kemitraan ekonomi, maka Indonesia akan mencapai prinsip saling menguntungkan di bidang ekonomi, serta bisa menjajaki kerja sama ekonomi lainnya," ujarnya.
Sementara itu, dalam mengatasi isu perlindungan WNI, Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri akan menguatkan perlindungan dengan meluncurkan aplikasi ponsel untuk menjamin keselamatan para WNI di luar negeri.
"Kami juga akan terus memperbaiki tata kelola dan meluaskan kerjasama bilateral dalam rangka menangani TPPO," ungkap Retno.
Upaya lain untuk melakukan perlindungan adalah dengan membentuk counter-terorisme sebagai pelatihan dalam menanggulangi aksi terorisme. Tak lupa, Indonesia juga akan terus mendorong pemajuan HAM di Dewan HAM PBB.
Terakhir, di bidang inovasi, Indonesia akan meluncurkan digital command centre, termasuk membuat e-newsletter, video blog Kemlu, dan Kemlu TV.
"Ini dilakukan untuk mendukung dan memfasilitasi digital diplomasi di Indonesia," pungkasnya.
(mdk/che)