India Geger, Dua Perempuan Dibunuh untuk Tumbal dan Kanibal
Komisioner Polisi Kota Kochi, CH Nagaraju mengungkap seorang dukun berumur 52 tahun adalah dalang di balik pembunuhan itu.
Polisi di India menangkap tiga tersangka pembunuhan atas 2 wanita yang dibunuh untuk dipersembahkan sebagai tumbal.
Kabar berita The Indian Express melaporkan, 2 wanita yang dibunuh dan dimutilasi itu diyakini polisi disiksa parah oleh sepasang suami istri dan seorang pria yang mereka tangkap. Polisi mengungkap ketiga tersangka itu telah mengakui perbuatannya.
Dua jasad penjual tiket lotere bernama Padmam (56 tahun) dan Rosly (49 tahun) pun ditemukan terkubur di belakang rumah pasangan yang berada di desa Elanthoor itu. Polisi segera menggali 2 jenazah Selasa lalu.
Menurut laporan polisi, Padmam dilaporkan hilang pada 26 September. Sedangkan Rosly sudah tidak lagi diketahui keberadaannya sejak 6 Juni lalu.
Komisioner Polisi Kota Kochi, CH Nagaraju mengungkap seorang dukun berumur 52 tahun bernama Muhammad Shafi adalah dalang di balik pembunuhan itu.
Shafi diyakini telah memengaruhi Bhagaval Singh (60 tahun) dan istrinya, Laila (52 tahun) untuk melakukan pengorbanan manusia agar mereka mendapat keuntungan finansial. Polisi juga yakin jika Shafi memakan daging Rosly. Namun hal itu harus dibuktikan melalui penyelidikan lebih lanjut.
“Shafi melakukan tindakan penyimpangan seksual terhadap perempuan. Dia adalah seorang cabul dan psikopat,” jelas Nagaraju, seperti dilansir South China Morning Post, Kamis (13/10).
Kepala Menteri Kerala, Pinarayi Vijayan mengaku dia terkejut mendengar kasus pengorbanan manusia itu. Apalagi pelaku melakukan aksi kejahatan karena percaya hal takhayul.
Kantor berita Hindustan Times melaporkan Shafi diketahui menggunakan media sosial untuk mengincar korban-korbannya. Shafi pun memikat 2 korbannya untuk bertemu dengan tipu muslihat mendapat uang dan pekerjaan.
Rosly pun menjadi korban pertama dan Padmam kedua.
“Pembunuhan kedua jauh lebih brutal karena setelah yang pertama, Singh menghubungi Shafi mengeluh bahwa dia tidak melihat ada keuntungan materi yang didapat dan diberitahu bahwa perlu ada pengorbanan yang lebih mengerikan karena keluarga berada di bawah kutukan,” jelas seorang polisi.
Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan
(mdk/pan)